Selamat Datang

2 December 2019

Sehari, Menelusuri Jejak Peradaban Masyarakat Adat, Kambata Wundut-Lewa


Dalam rangka mendorong pengakuan dan perlindungan Masyarakat Hukum Adat (MHA) dan hak-hak Tradisionalnya, maka  keberadaan (eksistensi) wilayah adat, merupakan salah syarat penting bagi upaya pengakuan dan perlindungan tersebut. dalam rangka mengumpulkan data sosial dan data  tentang wilayah adat (data spatial), maka Tim Konsursium Tana Wai-Maringi (Yayasan Koppesda dan Perkumpulan Humba Ailulu) selama enam hari, dimulai dari tanggal 26 November hingga tanggal 1 Desember 2019, melakukan kajian untuk mengumpulkan informasi tentang kehidupan sosial budaya dan informasi tentang wilayah adat MHA Kambata Wundut.
Foto: Penulis bersama "Ratu" (Imam) Kabihu Padda Uma Karambo
(Mbadi Wora Njara)
Kegiatan selama dua hari pertama dilakukan di kantor Desa Persiapan Pindu Wangga Wundut, dimana tim konsorsium bersama dengan perwakilan pemerintah Desa Kambata Wundut, perwakilan pemerintah Desa Pindu wangga Wundut, perwakilan tokoh masyarakat, perwakilan tokoh masyarakat dari desa-desa tangga, bersama-sama terlibat dalam kegiatan diskusi terfokus (Focus Group Discusion/FGD), dalam rangka pengumpulan data tentang sejarah keberadaan  masyarakat adat Kambata Wundut, hubungan sosial kemasyarakatan setiap Kabihu, hukum adat, sejarah pengelolaan, pemanfaatan dan pembagian wilayah adat serta keberadaan dan pengelolaan wilayah adat saat ini. Kegiatan tersebut di hadiri juga oleh konsultan metodologi kajian sosial (Umbu Padjaru Lombu) dari UNKRISWINA Sumba dan konsultan pemetaan (Christian David), yang turut memfasilitasi kegiatan FGD. pada hari ketiga hingga hari ke-enam, tim Konsorsium membagi diri menjadi 2 (dua) tim. Tim pertama bertugas untuk memperdalam informasi data sosial dengan melakukan wawancara mendalam dengan para narasumber (Key Informan), sedangkan tim kedua bertugas untuk melakukan pengambilan titik koordinat wilayah adat (pemetaan partisipatif) MHA Kambata Wundut.
Foto: Persiapan Tim Pemetaan Partisipatif,
Sebelum Melakukan Pengambilan Titik Koordinat Batas Wilayah Adat di Kambata Wundut
Tim pemetaan terdiri dari 4 (empat) orang dari anggota konsorsium, 5 (lima) orang tim pemetaan Partisipatif yang telah di latih dan 10 (sepuluh) orang pemandu lokal yang terdiri dari tokoh masyarakat yang memahami batas-batas wilayah adat MHA Kambata Wundut. untuk mempermudah kegiatan pengambilan titik koordinat wilayah adat, tim pemetaan dibagi lagi menjadi 4 tim. Kegiatan pengambilan titik koordinat (batas) wilayah adat di awali dengan pembahasan batas-batas wilayah adat, titik-titik lahan komunal, bekas-bekas perkampungan serta lokasi-lokasi penting untuk melaksanakan upacara keagamanaan (Marapu). Kegiatan selanjutnya adalah persiapan teknis, yaitu penyiapan GPS, peralatan untuk mecatat data (pensil dan form), perbekalan, persiapan mantel, dll. Setelah semua persiapan untuk melaksanakan kegiatan dirasa sudah cukup, mulai-lah  masing-masing tim beranjak ke lokasi tujuan masing-masing.
Penulis sendiri tergabung di tim empat, dengan anggota 1 (satu) orang relawan yang telah dilatih dan 3 (tiga) orang pemandu lokal. Dengan  penuh semangat kami mulai mengayunkan langkah ke lokasi tujuan, yaitu sebuah hutan kecil yang di sebut "Hunda Rangga", yaitu batas wilayah adat yang berbatasan langsung dengan wilayah administratif kabupaten Sumba Tengah.  Setelah mengambil titik koordinat di Hunda Rangga selanjutnya kami  menuju ke sebuah tempat yang bernama “Rowak” di lokasi tersebut terdapat  sumber air yang  yang sangat jernih, tanpa membuang kesempatan kami semua lalu membasuh muka untuk sejenak merasakan kesejukan yang sangat alami.
Foto: Kuburan Umbu Nggiku
(salah satu leluhur Masyarakat Kambata Wundut)
di Laidatu di bawah Parenggu Ana Ndua
Dari Rowak, kami melanjutkan perjalanan dengan melawan terik matahari menuju ke lokasi berikutnya yang “Pare Tawawul” salah satu anggota tim (Mbani Woru Njara) yang dalam kehidupan sosial berkedudukan sebagai “Ratu” (Imam) dari Kabihu Padda Uma Karambo mengisahkan bahwa lokasi ini merupakan tempat persinggahan dan peristrahatan para leluhur MHA kambata Wundut saat berperang dengan pihak lain, dari lokasi tersebut  selanjutnya tim kami menuju sebuah tempat yang nama “Hara Karang  Mbadi Woru Njara mengisahkan bahwa lokasi tersebut di namakan demikian karena ketika para leluhur membakar binatang buruan (babi hutan), ternyata  daging tersebut tak senikmat yang mereka inginkan karena hangus. Setelah mengambil titik di lokasi tersebut, kami menuju ke sebuah bekas rumah kebun atau di sebut “Kotak Lai Mbuhangoleh masyarakat setempat, perjalanan selanjutnya kami dipandu untuk melakukan pengambilan titik koordinat “Palendu Padua  lalu ke La Pau”, kedua lokasi ini  dimanfaatkan oleh MHA Kambata Wundut sebagai lokasi pengembalaan ternak besar hingga sekarang.  
Tanpa kami sadari matahari mulai menghilang dan waktu telah menunjukkan pukul enam sore, lokasi terakhir yang kami tuju adalah adalah sebuah tempat yang mempunyai nilai sangat penting bagi semua MHA di kambata Wundut, yaitu sebuah lokasi yang disebut sebagai “Mata Wongu”. lokasi ini merupankan tempat upacara keagamaan penting bagi sebagian MHA Kambata Wundut yang menganut agama lokal (Marapu).
Mbani Woru Njara, mengisahkan bahwa upacara keagamaan (Marapu) yang dilaksanakan di tempat tersebut dimaksudkan  untuk memohon berkat kepada Sang Pencipta dalam segenap aspek kehidupan berupa hasil pertanian, peternakan, akal budi, kesehatan, serta keberlangsungan keturunan (laki-laki dan perempuan). lokasi ini sangat di-keramatkan oleh masyarakat Kambata Wundut, dimana tidak semua masyarakat diperbolehkan untuk mengikuti upacara keagamaan tersebut, hanya mereka yang menyelesaikan adat perkawinan, adat kematian yang boleh datang untuk mengikuti upacara keagamaan di lokasi tersebut. Mbadi Woru Njara mengatakan bahwa upacara untuk memohon berkat dilakukan dengan cara menggosok minyak kelapa di Andungu Wolu Kondai-Andungu Wolu Ndima, lalu dilanjutkan dengan pemberian sirih pinang  berturut-turut oleh Kabihu Padda Uma Karambo, lalu Kabihu Padda Uma Ma Aya terakhir oleh  Kabihu Padda Uma Ratu.
Foto: Bersama tim Pemetan di lokasi upacara ke-agamaan (Marapu) masyarakat adat Kambata Wundut di Mata Wongu
Tugas kami selama sehari kami telah kami selesaikan, tepat pukul sembilan malam, kami tiba kembali di rumah penginapan tim. walaupun tubuh merasakan kelelahan setelah sehari penuh berjalan menelusuri jejak peradaban Masyarakat Adat Kambata Wundut, namun rasa lelah itu terbayar lunas dengan berjalan-nya kegiatan pengambilan titik-titik koordinat, batas wilayah adat MHA Kambata Wundut.
Selama sehari menelusuri jejak peradaban masyarakat adat Kambata Wundut, Mbadi Woru Njara, selaku tokoh Masyarakat Adat di Kambata Wundut menyampaikan bahwa, karena perkembangan jaman, luas wilayah adat mereka tidak lagi seperti dahulu, banyak wilayah adat yang telah dibagikan kepada kabihu (klan) lain yang datang belakangan di Kambata Wundut, banyak juga tempat penting (lokasi perkampungan, lokasi upacara keagamaan, lokasi kebun) yang saat ini tidak lagi mereka bisa manfaatkan secara leluasa, karena masuk menjadi bagian dari Kawasan Taman Nasional MATALAWA. salah satu hambatan yang mereka rasakan adalah mereka tidak bisa bebas untuk memasuki olasi tempat upacara keagamaan di Mata Wongu, dimana setiap hendak melaksanakan upacara keagamaan, masyarakat harus mengajukan permohonan kepada pihak Balai Taman Nasional MATALAWA. dia berharap apa yang telah diwariskan oleh para leluhur-nya, dapat diakses dan dimanfaatkan lagi oleh MHA Kambata Wundut, sebuah harapan yang tentunya membutuhkan perjuangan yang panjang, tugas hari ini hanyalah sebagian kecil dari bagian perjuangan yang akan ditempuh...

Waingapu, 2 Desember 2019.

18 November 2019

Mengembalikan Kehormatan Masyarakat Adat Parengu Wundut



Oleh : Suryani Marapraing


Pada tanggal 10 November 2019 Konsorsium Tana Wai Maringi (Yayasan Koppesda  dan Perkumpulan Humba Ailulu) bersama-sama dengan masyarakat adat Parengu Wundut melakukan musyawarah terkait  hak-hak masyarakat adat Wundut yang selama ini terabaikan, pertemuan tersebut sebagai kegiatan lanjutan dari kegiatan sosialisasi tentang Hak-hak Masyarakat Hukum Adat (MHA) pada tanggal 04 Oktober 2019 yang dihadiri oleh Camat Lewa, Pemerintah Desa, tokoh adat, tokoh agama serta masyarakat Desa Persiapan Pindu Wangga Wundut, Kambata Wundut dan Desa-desa tetangga.
Dalam musyawarah yang di inisiasi oleh tokoh-tokoh Masyarakat Adat Wundut tersebut, setengah ber-nostalgia mengenang masa-masa lalu, mereka menjelaskan bahwa saat ini banyak hak-hak komunal mereka yang berada di dalam Kawasan Taman Nasional MATALAWA, antara lain Kampung  Leluhur pertama di Ana Ndua, Tempat ritual hamayang di Utang Mata Wongu, Padang penggembalaan  di Katoda Ukur, lahan sawah di seputaran Ngeapa Takung, Lai Yadu, Lai Hapu, Lai Panduk dan lahan tanaman holtikultura di Mamohung, tidak lagi bisa dikelola dan dimanfaatkan secara penuh oleh  Masyarakat Hukum Adat (MHA) Wundut.  lahan-lahan tersebut, dulunya merupakan lambang kehormatan mereka, tempat/ruang dimana mereka mengusahakan kehidupan, namun sekarang ruang hidup mereka menjadi terbatas karena kebijakan yang mengharuskan mereka untuk meninggalkan hak-hak yang sebetulnya mereka warisi secara turun-temurun. 
foto : Musyawarah bersama masyarakat adat parengu wundut

Musyawarah  yang di ikuti oleh 12 (dua belas) perwakilan kabihu dari  17 (tujuh belas) Kabihu yang  di Parengu Wundut menyatakan Kesiapannya untuk terlibat aktif dalam kegiatan yang difasilitasi oleh Konsorsium Tana Wai Maringi yang didukung oleh  Dedicated Grant Mechanism  (DGM) Indonesia melalui Samdhana Institute memperjuangkan hak-hak masyarakat adat Parengu Wundut. Kegiatan ini membuka kembali harapan masyarakat adat Parengu Wundut untuk kembali mengakses lahan-lahan komunal yang merupakan warisan berharga dari leluhur mereka. Harapan besar tersebut, tentunya bukan isapan jempol belaka, harapan tersebut berkembang karena dewasa ini Pemerintah lebih responsif terhadap berbagai kepentingan masyarakat, termasuk diantaranya adalah kepentingan masyarakat adat, hal ini dapat kita ketahui dari  berbagai kebijakan dan peraturan perundang-undangan yang kembali membuka ruang terhadap pengakuan dan perlindungan hak-hak masyarakat hukum adat.   
Dasar Pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat hukum adat, dapat kita lihat pada Undang-Undang Dasar 1945 pasal 18 B ayat 2:"Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang".

pengakuan tersebut dapat kita temui pada berbagai peraturan perundang-undangan, antara lai:
3. Permen ATR/ Kepala BPN Nomor 10 Tahun 2016 sebagaimana telah diganti dengan Peraturan Mentri/ Kepala BPN Nomor 18 tahun 2019 tentang Tata Cara Penetapan Hak Komunal Atas Tanah Masyarakat Hukum Adat dan Masyarakat Yang Berada Dalam Kawasan Tertentu
5. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. P32/Menlhk-Setjen/2015 Tentang Hutan Hak dan yang terbaru ada Permen LHK No. 21/2019 tentang Hutan Hak dan Hutan Adat, dan aturan-aturan lainnya.

Adanya peluang dalam berbagai kebijakan dan peraturan perundang-undangan tentunya tidak serta akan mengembalikan hak-hak tradsional masyarakat hukum adat. peluang tersebut butuh dukungan dan komitmen kuat dari berbagai stakeholder terkait, baik dari Pemerintah Daerah Kab. Sumba Timur, DPRD, Akademisi, NGO, tokoh masyarakat adat untuk mengembalikan kehormatan Masyarakat Adat di Sumba Timur, termasuk Masyarakat Hukum Adat Wundut. 
Salah satu harapan yang ingin di capai oleh konsorsium Tana Wai MAringi adalah untuk mendorong lahirnya kebijakan Pemerintah Daerah dan stakeholder terkait di Kab. Sumba Timur tentang pengakuan dan perlindungan MHA dan hak-hak tradisionalnya, termasuk Hak-hak Masyarakat Hukum  Adat di Parengu Wundut. semoga harapan tersebut dapat disambut dengan baik oleh berbagai pihak untuk mengembalikan kehormatan Masyarakat Hukum Adat di kab. Sumba Timur, seperti harapan bapak Lungi Randa seorang Wunang dan juga tokoh masyarakat adat di Parengu Wundut.
Foto : Bapak Lungi Randa

Kami sebagai masyarakat adat parengu wundut, siap terlibat dalam kegiatan ini karna kegiatan seperti inilah yang kami tunggu-tunggu dari dulu, lahan-lahan adat leluhur kami telah masuk dalam kawasan taman nasional dan juga ada beberapa tempat hamayang kami sebagai marapu dalam kawasan tersebut yang tidak lagi bisa kami akses” .




31 March 2018

Mengenal SRI (System of Rice Intesification) di Sumba Timur


Oleh 
Johny Joz 
(Staf Ahli Pertanian Lahan Basah Program SPARC, Kab. Sumba Timur)

Apa Itu SRI ? SRI merupakan singkatan dari System of Rice Intensification, Berdasarkan sejarahnya pola SRI ditemukan oleh Pendeta Madagaskar Henri de Laulanie sekitar tahun 1983 di Madagaskar karena SRI Laulanie menemukan bahwa produktivitas pertanian (padi) masyarakat Madagaskar kurang maksimal. Berdasarkan percobaannya Laulanie bisa melipatgandakan produktivitas pertanian (padi) secara mencengangkan.
Umtuk wilayah Kabupaten Sumba Timur, Pola SRI relatif merupakan hal yang baru dan belum masif di kembangkan. pola ini masih dikembangkan dalam bentuk percontohan oleh para pegiat pertanian, antara lain dari Dinas Pertanian,i BP4K dan BP3K, maupun pekerja sosial seperti Rahmat Organik, yang akrab dipanggil Kang Rahmat Organik.

Keunggulan Metode SRI
Berdasarkan hasil pengembangan di masyarakat, maka ada beberapa keunggulan pola SRI, yang apabila dilaksanakan dengan optimal dan intensif akan berdampak pada peningkatan produksi padi yang sangat baik.

 1.Seleksi Benih Unggul.
Melalui seleksi benih dengan metode sederhana, menggunakan media air, garam, telur sehingga benih padi yang akan disemai merupakan benih unggul. Langkah pertama adalah melakukan seleksi benih dengan air tawar, benih yang akan disemai di tuang di dalam wadah ember atau baskom yang berisi air tawar, lalu kita mengeluarkan benih yang terapung.
Gambar 1.
bibit padi usia 10 hari
Langkah kedua adalah menuangkan garam secukupnya ke dalam air tawar, dan menggunakan telur ayam sebagai alat untuk mengukur massa dari air tersebut, apabila telur telah mengapung, karena massa air yang telah di campur dengan garam menjadi lebih besar daripada masa telur ayam,  maka air yang telah dicapur dengan garam telah siap digunakan sebagai media seleksi benih unggul. Benih padi yang telah disiapkan di tuang dalam air yang telah di campur garam dan selanjutnya adalah mengambil benih yang terapung, sehingga benih yang tersisa adalah benih unggul yang siap di semai.

 2.Penggunaan air.
Pola SRI hanya menggunakan air sampai keadaan tanahnya sedikit terlihat basah oleh air (macak-macak), sehingga tidak terlalu membutuhkan suplai air yang banyak. Tanah yang tergenang air pada dasarnya akan menyebabkan kerusakan pada struktur padi, padi membutuhkan air tetapi tidak terlalu banyak. Hal lain yang ditimbulkan oleh proses penggenangan adalah timbulnya hama, tetapi yang perlu diperhatikan bahwa pengairan padi pada dasarnya tergantung dari  kondisi dan sifat tanah, kalau tanah dengan kandungan pasir yg tinggi, maka penggunaan air perlu diperhatikan dengan baik, sehingga lahan tidak sampai kering dan retak, karena akan mempengaruhi pertumbuhan akar padi.

 3. Penanaman usia muda.
Penanaman yang baik dilakukan saat berusia 10-14 hari sehingga tanaman padi mempunyai waktu yang panjang di fase vegetatif tanam menjadi, jika penanaman padi dilakukan ketika bibit berusia 12 hari, maka fase pertumbuhannya menjadi lebih lama, yaitu antara 12-55 hst,  (43 hari), sehingga tanaman berkembang dengan baik dan jumlah anakan akan banyak.

Gambar 2.
penanaman dengan Pola SRI di Desa Praimadita.
 4. penanaman satu bibit per titik tanam.
Penanaman 1 bibit per titik tanam dimaksudkan supaya tidak terjadi persaingan untuk mendapatkan nutrisi, cahaya matahari, udara, dan bahan lainnya dalam suatu titik atau area tanam. Kebutuhan benih yang sedikit memberikan keuntungan bagi petani, karena bisa menghemat kebutuhan benih.

5.Penanaman dangkal (akar tidak dibenamkan dan ditanam horizontal).
Penanaman dangkal bertujuan supaya proses pertumbuhan dan asimilasi nutrisi akar muda berlangsung dengan baik. Jika ditanam terbenam, maka akan timbul kekurangan oksigen yang menimbulkan peracunan akar, dan gangguan siklus nitrogen yang dapat menyebabkan pelepasan energi, pertumbuhan struktur akar menjadi tidak lengkap.

6. Jarak tanam yang cukup lebar.
Gambar 3.
Pertumbuhan padi rata-rata 36 batang di usia 40 Hst,
dengan jarak tanan 25 x 25 cm
Jarak tanam yang ideal adalah 20-25 cm untuk setiap titik tanam. Jarak tanam yang relatif lebar dimaksudkan supaya  nutrisi, udara, cahaya matahari, dan bahan lainnya tersedia dalam jumlah cukup untuk suatu rumpun padi.

 7. Penggunaan Pupuk Organik.
Melalui pola SRI, dianjurkan untuk menggunakan pupuk organik padat (kotoran ternak atau kompos) dan pupuk organik cair, pemberian pupuk organik padat bisa diaplikasikan sebagai pupuk dasar, sedangkan pemberian pupuk Cair bisa dilakukan (2) dua kali yaitu ketika berusia 30 Hst I dan 50 Hst II.
Pemberian POC Organik yang dibuat sendiri, perlu memperhatikan terpenuhinya unsur-unsur N, P dan K.

Peran unsur N (nitrogen) merupakan salah satu unsur penting yang dibutuhkan padi untuk pembentukkan hijau daun, pertumbuhan tanaman, perkembangan anakan dan pertumbuhan daun. Kekurangan (unsur N) dapat menyebabkan: Tanaman menjadi kerdil, daun tanaman kuning , dan hasil  produksi rendah.
Kelebihan Urea (unsur N) dapat menyebabkan: Pertumbuhan vegetatif terlalu subur, tanaman mudah rebah, mudah diserang hama dan penyakit. Salah satu sumber unsur N adalah Kencing ternak, kotoran ternak, daun-daunan hijau, dll.
Peran unsur P (Fospor) adalah untuk merangsang pertumbuhan akar, pertumbuhan tanaman, memberbesar anakan dan gabah serta memberbesar bulir padi. Pemberian POC dengan kandungan unsur P sangat cocok diaplikasikan pada fase vegetatif dan fase generatif.  Salah satu sumber unsur P adalah tulang hewan, batang pisang, dll.
Peran unsur K (Kalium),  adalah untuk membuat batang kokoh sehingga tidak roboh, buah tidak mudah rontok, hama penyakit tidak mudah menyerang tanaman dan membuat gabah menjadi beris.Unsur K dapat diperoleh dari sabut kelapa, jerami dll.
Peran penting Pupuk organik, baik padat maupun cair, karena pupuk organik tidak hanya berperan sebagai sumber nutrisi (pupuk) tetapi juga berperan sebagai mikroorganisme lokal (MOL) atau bio reaktor (reaktor hidup) yang dapat mendukung peningkatan produktivitas tanaman padi. Fungsi dari bio reaktor sangatlah kompleks antara lain, sebagai penyuplai nutrisi, kontrol mikroba sesuai kebutuhan padi, menjaga stabilitas kondisi tanah sehingga ideal bagi pertumbuhan padi.

Tantangan
Petani kita sudah terlanjur memiliki mind set bahwa untuk meningkatkan produksi padi yang meningkat, maka  pertanian harus menggunakan pupuk dan pestisida kimia. NPK (Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama) merupakan kebutuhan rutin para petani kita. Kita sedang mengalami masa kejayaan penggunaan pupuk dan pestisida dari kimia sebagai imbas dari gerakan revolusi hijau. Petani kita tidak lagi memahami bahwa tanah kita butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita. sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia yang merusak lingkungan  dan berakibat pada tingkat kesuburan tanah yang semakin menurun.
Pada saat ini, masyarakat semakin tergantung dengan berbagai produk kimia, bahkan terjadi kelangkaan pupuk, saatnya kita kembali pada pola pertanian yang selaras dengan alam, yang memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia begitu banyak.

Peluang
Berdasarkan keunggulan pola SRI diatas, maka melalui Program SPARC (Strategic Planning and Actions to Strengthen Climate), yang didukung oleh Kementrian Lingkungan Hidup & Kehutanan, United Nations Development Programe (UNDP), Bappeda Provinsi NTT, Bappeda Kab. Sumba Timur bekerja sama dengan Yayasan Koppesda, menggalakan dan mempromosikan sistem pertanian padi sawah dengan Pola SRI. Pola SRI juga merupakan salah satu strategi untuk mendukung ketahanan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim yang dampaknya semakin di rasakan oleh masyarakat.
Percontohan Pola SRI telah dilakukan di Dsa Palanggay, Desa Rakawatu, Desa Tamma, Desa Katikuwai dan Desa Praimadita, kegiatan percontohan ini diharapkan mendorong para petani untuk belajar tentang keunggulan pola SRI!.
Mari kita optimalkan hasil produksi kita dari hal yang yang kecil, dari lahan yang kecil, dari bahan-bahan lokal dengan memperbaiki sistem pertanian, dengan System of Rice Intensification (SRI).
Waingapu 31/03/2018



Silahkan menonton video testimoni dibawah






23 March 2018

Bersama Mewujudkan Kebaikan untuk Meringankan Beban Kehidupan

(Sekilas tentang kegiatan penggalangan dana masyarakat/Crowd Funding & pembangunan infrastruktur air bersih di Dusun Napu)
Yayasan Koppesda 


 Gambar 1: Warga Dusun Napu, 
tidak lagi harus berjalan jauh untuk mengambil air.
Desa Napu merupakan salah satu desa yang termasuk di dalam Kecamatan Haharu yang terletak di sebelah utara Kab. Sumba Timur (luas 142.6 km2), dengan ketinggian 207 m DPL. secara administrasi Desa Napu terdiri dari 2 dusun yakni dusun Napu dan dusun Prailangina
Desa Napu identik dengan cuaca dan kondisi alam yang ekstrem dibandingkan desa-desa lainnya di Kab.Sumba timur. dengan kondisi tanah berbatu, di dominasi padang sabana dengan sedikit vegetasi, serta suhu yang sangat tinggi pada musim kemarau dan curah hujan hanya berkisar 3-4 bulan per tahun (Desember-Maret).

Berdasarkan data dari https://id.climate-data.org/location/6026/ Suhu rata-rata Desa Napu adalah 24.5 °C dan bulan terhangat adalah bulan November dimana suhu rata-rata mencapai 25.9 °C. Kondisi alam dan iklim yang ekstrim ini semakin memprihatinkan dengan terbatas-nya sumber daya air. Sumber air utama masyarakat Desa Napu (Dusun Napu) adalah (1) satu mata air dan (1) unit sumur milik warga. Kedua sumber air ini merupakan penopang utama kebutuhan air penduduk di dusun Napu, Desa Napu dan warga sekitarnya (Desa Wunga). Untuk sampai di lokasi ini, warga umumnya perempuan dan anak-anak, harus berjalan kaki, bahkan harus menuruni bukit dengan jarak sekitar (500) lima ratus meter dari pemukiman terdekat, yaitu kampung Napu. warga yang jarak pemukimannya jauh dari kedua lokasi tersebut, terpaksa harus mengangkut air dengan kendaraan sepeda motor, bahkan untuk memenuhi kebutuhan air minum, warga Desa Napu pada umumnya harus membeli air minum yang disalurkan oleh mobil tanki. Sumber daya air yang terbatas, juga tidak didukung oleh ketersediaan sarana/infrastruktur air bersih.

Dalam rangka meringankan beban masyarakat di Dusun Napu, maka UNDP (United Nation Development Programe) bekerja sama Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan (K LH & K), Bappeda Provinsi Nusa Tenggara Timur, Bappeda Kab. Sumba Timur dan yayasan Koppesda (Koordinasi Pengkajian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam), menggagas kegiatan penggalangan dukungan dana masyarakat (crowd funding) yang peduli terhadap kehidupan sesama, di Dusun Napu, Desa Napu, Kab. Sumba Timur. kerjasama tersebut merupakan lanjutan dari kerjasama dalam implementasi project SPARC (Strategic Planning and Action to strengthen climate resilience of Rural Community).

Crowd Funding
Apa itu crowfunding, secara etimologis berasal dari kata “Crowd”  yang artinya keramaian dan “funding” yang artinya pembiayaan. Jadi crowd funding dapat diartikan secara sederhana sebagai 1). kegiatan oleh individu/tim/organisasi/entitas untuk mengumpulkan  dana  secara  “patungandengan tujuan untuk dapat membiayai sebuah kegiatan amal atau sosial, 2). kegiatan oleh individu/tim/organisasi/entitas untuk “memfasilitasi pengumpulan  dana”  dari orang-orang yang  peduli, dengan tujuan untuk dapat membiayai sebuah kegiatan amal atau sosial. Naningtyas Rahardjo mengatakan bahwa crowd funding pertama dilakukan oleh grup band Marilion dari Inggris pada tahun 1997 dengan istilah "Fan Funding" untuk membiayai perjalanan tour mereka, namun sebenarnya cikal bakal crowd funding sendiri sudah ada sejak masa sebelum masehi, yaitu pendanaan dari kontribusi dan sumbangan untuk melaksanakan kegiatan amal, bahkan dalam kehidupan kita sehari-hari, kita sangat familiar dengan kegiatan pengumpulan dana/donasi untuk kegiatan amal atau sosial dari orang-orang yang peduli, dermawan atau berjiwa sosial. . 

Kegiatan penggalangan dana dari masyarakat juga dilakukan oleh Sineas Indonesia Mira Lesmana dan Riri Riza untuk membiayai pembuatan film Atambua 39° pada tahun 2012 melalui website www.wujudkan.com, walaupun situs tersebut telah di tutup pada maret 2017.  Dewasa ini kegiatan penggalangan dukungan dana dari masyarakat (crowd funding) menjadi lebih mudah dengan dukungan perkembangan teknologi informasi, yang mana kegiatan tersebut bisa mengumpulkan orang-orang yang peduli, yang berjiwa sosial/dermawan (filantropi) secara online. Di Indonesia dewasa ini terdapat beberapa lembaga/organisasi yang menggalang dana /donasi khusus untuk kegiatan sosial atau amal secara online, salah satunya adalah situs KitaBisa. sampai dengan saat ini situs KitaBisa telah berhasil memfasilitasi penggalangan dana untuk kegiatan sosial sebanyak 9.466 kali.

UNDP sebagai inisiator kegiatan crowd funding untuk membangun instalasi air bersih di Dusun Napu, Desa Napu menggandeng situs www.kitabisa.com. Situs ini berdiri pada tahun 2013 dengan mengusung platform Menghubungkan #OrangBaik (dengan semangat gotong-royong menghubungkan kebaikan). Kegiatan pengalangan dukungan dana dari masyarakat (crowd funding), yang di inisiasi oleh UNDP dimaksudkan sebagai salah satu cara untuk mempromosikan  Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya untuk meningkatkan akses terhadap air bersih dan sanitasi (SDG 6), untuk mengakhiri kemiskinan (SDG 1), untuk memerangi ketidaksetaraan (SDG 10) dan aksi iklim (SDG 13).

Gambar 2. Reza Rahardian & Eva Celia Ketika berkunjung di Desa Napu 

menyerahkan dana yang di kumpulkan melalui kegiatan Crowdfunding

Penggalangan dana ini diluncurkan tepat pada hari air sedunia (world water day), 22 Maret 2016 dan ditutup pada tanggal 22 Mei 2016. Kegiatan ini menarik banyak dukungan dari banyak individu-individu yang peduli, termasuk aktor Reza Rahadian dan Artis  Eva Celia, dari target dana Rp 350.000.000 akhirnya terkumpul dana sebanyak Rp.367.872.193. 




Pembangunan Fisik Infrastruktur Air Bersih


Gambar 3. Staf Yayasan Koppesda
memfasilitasi kegiatan Instalasi Sollar Pump
.
Kegiatan pembangunan fisik difasilitasi oleh Tenaga Ahli (Umbu Palanggarimu) dari yayasan koppesda bersama fasilitator desa (Triawan U.U. Mehakati) dan dalam implementasi kegiatan, dibantu oleh anggota dan pengurus Kemas Proklim (Kelompok Masyarakat Program Kampung Iklim) Desa Napu. 
Pembangunan fisik infrastruktur air bersih di Dusun Napu memanfaatkan (2) sumber air yang tersedia dan teknologi yang digunakan adalah teknologi sollar pump. dengan spesifikasi sebagai berikut:
  1. 1 unit Solar Pump (Grondfus SQ 285) dan 1 Unit Jet pump (Zhimizu);
  2. 16 unit Panel Surya Monocrystalline 200 WP tipe IPV 200 M;
  3. Battrey VRLA Deep cycle GEL 100 Ah  - 12 V tipe JXH10,12 buah;
  4. Bak Reservoir Tendon (2.200 L) sebanyak 4 buah;
  5. Tugu Kran 4 unit beserta Pipa HDPE PN 10, 1,5 Km  beserta accessories.
kegiatan pembangunan infrastruktur air bersih mulai dikerjakan pada bulan september 2016 dan selesai di kerjakan pada bulan Mei 2017.

Dampak Lanjutan
beberapa dampak dari kegiatan ini antara lain:
  • Adanya Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan EBT yang lebih hemat dan ramah  lingkungan;
  • Adanya penghematan tenaga danwaktu untuk memperoleh air bersih,  karena  akses air makin mudah, terutama bagi Ibu & anak-anak perempuan, sehingga waktu luang yang seharusnya dipergunakan untuk mengambil air dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lain;
  • Adanya penghematan biaya pembelian air rata-rata Rp.600.000/bulan untuk setiap rumah tangga.
  • Meningkatnya kesehatan keluarga dengan ketersedaian air yang cukup untuk MCK.
  • Adanya penambahan gizi keuarga dengan pemanfaatan air untuk budidaya sayur di pekarangan rumah.
Keberlanjutan
    Dalam rangka mendukung keberlanjutan instalasi air bersih di Dusun Napu, maka Kemas Proklim Desa Napu bekerjasama dengan pemerintah Desa, memfasilitasi pembentukkan Komite Pengelola Air yang dikukuhkan dengan SK Kepala Desa Napu. Tugas komite pengelola air adalah untuk mengelola, mengawasi dan melakukan pemeliharaan infrastruktur air bersih yang telah dibangun.
  Hasil Inisiasi untuk mempertemukan individu-individu yang berjiwa sosial/derwawan (filantropis) untuk mewujudkan kegiatan yang dapat berdampak positif pada sesama yaitu mendekatkan air sebagai sumber kehidupan, telah mengubah hidup 512 jiwa/118 KK (168 L, 344 P) saudara-saudara kita di Dusun Napu, Desa Napu, Kabupaten Sumba Timur. Kita harus bersyukur, kalau saudara-saudara kita berkurang pengeluhannya, karena harus menguras tenaga, bercucuran keringat hanya karena harus berjalan jauh untuk mendapatkan air bersih, mengeluh karena harus membuang banyak waktu berharga hanya untuk mendapatkan air bersih, mengeluh karena pendapatan-nya berkurang hanya untuk membeli air bersih.
   Pada akhirnya kita harus turut merasakan kebahagian, ketika kita melihat senyum cerah kaum perempuan dan anak-anak yang bersyukur karena beban-nya menjadi lebih ringan. 
 
Gambar 4.kegiatan warga mengambil air di lokasi tugu kran, Dusun Napu. 
Kiranya kita menjadi pribadi yang selalu menyebarkan kebaikan, sekecil apapun, karena kebaikan yang kecil-pun akan sangat berarti bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan.

link video kampanye
#Bringwater4life


Waingapu23/03/2018

17 July 2017

Akses Air Mudah, Usaha Sayur Bertumbuh






“Saya sudah dua kali panen sayur putih, orang-orang sekitar membeli sayur di saya punya kebun, soal harga tiga pohon lima ribu, dari dua kali panen saya sudah mendapat satu juta rupiah” Suryani Rambu Anarara.


PROKLIM.KATIKUWAI/7/17/17. Program UNDP-SPARC bergerak pada tiga tujuan utama; Akses Air, Ketahanan Pangan dan Keragaman Mata Pencaharian. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut di atas, Yayasan KOPPESDA Sumba melakukan pendampingan kapasitas dan pendampingan teknis bagi masyarakat yang tergabung dalam kelompok Program Kampung Iklim (PROKLIM) “Pirihu Pa Oly” Desa Katikuwai, Kecamatan Matawai La Pawu. Pendampingan dilakukan berkat dukungan dana UNDP-SPARC bersama KLHK, BAPPEDA NTT dan BAPPEDA Sumba Timur. 

Implementasi kegiatan sudah dilakukan tahun 2016, ditandai dengan pencairan dana tahap pertama tanggal 19 juli 2016. Adapun kegiatan pembangunan sarana air bersih dilakukan pencairan dana pada tahap tiga tanggal 17 oktober 2016. 

Pengurus PROKLIM bersama PL KOPPESDA melakukan monitoring 
pada tugu kran sumber Mata Air La Iring/7/14/2017

Ada dua sumber mata air yang dilakukan intervensi, yaitu Matawai Watu dan Matawai La Iring. Matawai Watu menggunakan solarpumping yang saat tulisan ini diterbitkan masih dalam proses pemesanan mesin dan Matawai La Iring yang dialirkan secara gravitasi, saat ini sudah melayani 43 jiwa, kantor desa dan pasar desa pada jarak 865 meter. 
Anggota kelompok PROKLIM penerima manfaat air Matawai La Iring tidak saja memanfaatkan untuk konsumsi, cuci pakaian dan minuman ternak, juga dimanfaatkan untuk peningkatan ekonomi keluarga melalui usaha sayuran. Seperti diungkapkan oleh Suryani Rambu Anarara, pada kunjungan pengurus proklim 14 juli 2017 menceritakan bahwa “Sejak air ini ada, saya jadi mudah ambil air untuk minum dan cuci pakaian. Saya juga manfaatkan untuk usaha sayur, kendala di sini karena gangguan terkan babi dan kambing, sehingga saya harus buatkan pagar”. 

Suryani Rambu Anarara mengambil air pada tugu kran sumber Mata Air La Iring, 
disaksikan oleh pengurus PROKLIM pada/7/14/2017


Dampak lanjutan dari program air bersih untuk peningkatan ekonomi keluarga anggota PROKLIM menjadi salah satu tujuan utama program UNDP-SPARC dalam rangka menciptakan keragaman mata pencaharian bagi masyarakat. Adapun lokasi usaha sayuran ibu Suryani berada pada titik S10⁰03’54.3”E120⁰12’11.1”. Berkaca pada tujuan tersebut, ibu rumah tangga ini menceritakan penghasilannya selama usaha sayur memanfaatkan sarana air yang dibangun oleh program UNDP-SPARC “saya sudah dua kali panen sayur putih, orang-orang sekitar membeli sayur di saya punya kebun, soal harga tiga pohon lima ribu, dari dua kali panen saya sudah mendapat satu juta rupiah” tuturnya.

Adapun ibu 34 tahun ini mengusahakan sayur pada lokasi yang dipagari berukuran 20x10 meter. Bedeng sayur putih berjumlah 6 bedeng dengan ukuran masing-masing 5x1 meter, jumlah tanaman sayur putih pada setiap bedeng deretan panjang 20 pohon dan deretan lebar 5 pohon. Selain sayur putih yang telah diperoleh keuntungan ekonominya, Suryani juga mengusahakan aneka sayuran lainnya yang belum dipanen untuk dijual.

Pengurus PROKLIM melakukan kunjungan ke lokasi usaha sayur 
memanfaatkan akses air La Iring, ibu Suryani Rambu pada/7/14/2017

Meningkatnya perekonomian keluarga merupakan suatu kemajuan yang patut diapresiasi. Selain telah menghasilkan pendapatan bagi anggota PROKLIM, juga sudah mengurangi pengeluaran rumah tangga untuk membeli sayuran. Suryani melanjutkan “yang saya jual hanya baru sayur putih, saya juga ada tanam terong, kacang panjang, paria, cabe keriting, kangkung darat, bawang merah, daun kemangi dan kacang ijo. Cukuplah untuk konsumsi, lebihnya untuk dijual. Terima kasih PROKLIM, terima kasih untuk SPARC” tutupnya.

Kegiatan pembangunan sarana air bersih untuk mempermudah akses air bagi masyarakat sudah dilakukan, namun terus dalam proses pengerjaan, mengingat kegiatan masih dalam pelaksanaan. Saat ini jaringan pipa sudah selesai ditanam pada jarak 2.089 meter, namun pelaksanaan baru pada jarak 865 meter. Belum terjangkaunya jarak tersebut karena pengadaan hidran di lokasi kantor desa dan pasar desa belum dilakukan.V//Ray_KOPPESDA.