Monday, 17 July 2017

AKSES AIR MUDAH, USAHA SAYUR BERTUMBUH






“Saya sudah dua kali panen sayur putih, orang-orang sekitar membeli sayur di saya punya kebun, soal harga tiga pohon lima ribu, dari dua kali panen saya sudah mendapat satu juta rupiah” Suryani Rambu Anarara.


PROKLIM.KATIKUWAI/7/17/17. Program UNDP-SPARC bergerak pada tiga tujuan utama; Akses Air, Ketahanan Pangan dan Keragaman Mata Pencaharian. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut di atas, Yayasan KOPPESDA Sumba melakukan pendampingan kapasitas dan pendampingan teknis bagi masyarakat yang tergabung dalam kelompok Program Kampung Iklim (PROKLIM) “Pirihu Pa Oly” Desa Katikuwai, Kecamatan Matawai La Pawu. Pendampingan dilakukan berkat dukungan dana UNDP-SPARC bersama KLHK, BAPPEDA NTT dan BAPPEDA Sumba Timur. 

Implementasi kegiatan sudah dilakukan tahun 2016, ditandai dengan pencairan dana tahap pertama tanggal 19 juli 2016. Adapun kegiatan pembangunan sarana air bersih dilakukan pencairan dana pada tahap tiga tanggal 17 oktober 2016. 

Pengurus PROKLIM bersama PL KOPPESDA melakukan monitoring 
pada tugu kran sumber Mata Air La Iring/7/14/2017

Ada dua sumber mata air yang dilakukan intervensi, yaitu Matawai Watu dan Matawai La Iring. Matawai Watu menggunakan solarpumping yang saat tulisan ini diterbitkan masih dalam proses pemesanan mesin dan Matawai La Iring yang dialirkan secara gravitasi, saat ini sudah melayani 43 jiwa, kantor desa dan pasar desa pada jarak 865 meter. 
Anggota kelompok PROKLIM penerima manfaat air Matawai La Iring tidak saja memanfaatkan untuk konsumsi, cuci pakaian dan minuman ternak, juga dimanfaatkan untuk peningkatan ekonomi keluarga melalui usaha sayuran. Seperti diungkapkan oleh Suryani Rambu Anarara, pada kunjungan pengurus proklim 14 juli 2017 menceritakan bahwa “Sejak air ini ada, saya jadi mudah ambil air untuk minum dan cuci pakaian. Saya juga manfaatkan untuk usaha sayur, kendala di sini karena gangguan terkan babi dan kambing, sehingga saya harus buatkan pagar”. 

Suryani Rambu Anarara mengambil air pada tugu kran sumber Mata Air La Iring, 
disaksikan oleh pengurus PROKLIM pada/7/14/2017


Dampak lanjutan dari program air bersih untuk peningkatan ekonomi keluarga anggota PROKLIM menjadi salah satu tujuan utama program UNDP-SPARC dalam rangka menciptakan keragaman mata pencaharian bagi masyarakat. Adapun lokasi usaha sayuran ibu Suryani berada pada titik S10⁰03’54.3”E120⁰12’11.1”. Berkaca pada tujuan tersebut, ibu rumah tangga ini menceritakan penghasilannya selama usaha sayur memanfaatkan sarana air yang dibangun oleh program UNDP-SPARC “saya sudah dua kali panen sayur putih, orang-orang sekitar membeli sayur di saya punya kebun, soal harga tiga pohon lima ribu, dari dua kali panen saya sudah mendapat satu juta rupiah” tuturnya.

Adapun ibu 34 tahun ini mengusahakan sayur pada lokasi yang dipagari berukuran 20x10 meter. Bedeng sayur putih berjumlah 6 bedeng dengan ukuran masing-masing 5x1 meter, jumlah tanaman sayur putih pada setiap bedeng deretan panjang 20 pohon dan deretan lebar 5 pohon. Selain sayur putih yang telah diperoleh keuntungan ekonominya, Suryani juga mengusahakan aneka sayuran lainnya yang belum dipanen untuk dijual.

Pengurus PROKLIM melakukan kunjungan ke lokasi usaha sayur 
memanfaatkan akses air La Iring, ibu Suryani Rambu pada/7/14/2017

Meningkatnya perekonomian keluarga merupakan suatu kemajuan yang patut diapresiasi. Selain telah menghasilkan pendapatan bagi anggota PROKLIM, juga sudah mengurangi pengeluaran rumah tangga untuk membeli sayuran. Suryani melanjutkan “yang saya jual hanya baru sayur putih, saya juga ada tanam terong, kacang panjang, paria, cabe keriting, kangkung darat, bawang merah, daun kemangi dan kacang ijo. Cukuplah untuk konsumsi, lebihnya untuk dijual. Terima kasih PROKLIM, terima kasih untuk SPARC” tutupnya.

Kegiatan pembangunan sarana air bersih untuk mempermudah akses air bagi masyarakat sudah dilakukan, namun terus dalam proses pengerjaan, mengingat kegiatan masih dalam pelaksanaan. Saat ini jaringan pipa sudah selesai ditanam pada jarak 2.089 meter, namun pelaksanaan baru pada jarak 865 meter. Belum terjangkaunya jarak tersebut karena pengadaan hidran di lokasi kantor desa dan pasar desa belum dilakukan.V//Ray_KOPPESDA.