Saturday, 13 June 2015

Belajar Sambil Mengajar : Menghadapi Perubahan Sosial untuk Pengelolaan Sumber Daya ALam

Buku ini menawarkan konsep menarik tentang pendekatan saling belajar (shared learning) antara berbagai pihak dalam pengelolaan Sumber Daya Alam. dengan tujuan akan terjadi proses saling belajar dan bertukar pengalaman, membangun proses belajar yang partisipatif; membangun proses pelibatan multipihak untuk terjadinya perubahan sosial; membangun jaringan kerjasama dan menjembatani realitas lokal dengan kebijakan nasional. buku ini merupakan hasil  
belajar para penulis selama memfasilitasi kegiatan-kegiatan pengelolaan Sumber Daya Alam di berbagai daerah, sehingga buku ini menjadi panduan wajib bagi para sahat yang bergerak dalam pengelolaan Sumber Daya Alam, Judul Besar buku ini adalah "Belajar sambil mengajar"

Friday, 12 June 2015

Pola Tanam SRI (System of Rice Intensification)

Sekolah Lapang Sawah


Gambar 1. 
Praktek  Seleksi Benih, Persemaian dan Penanaman dengan Pola SRI

Dalam rangka meningkatkan kemampuan petani untuk beradaptasi dalam menghadapi perubahan iklim khususnya dalam menghadapi musim hujan yang tidak menentu, maka melalui program Strategic Planning and Action to Strengthen Climate Resilience of Rural Community (SPARC), KOPPESDA sebagai lembaga implementasi bersama dengan Umbu Bahi selaku koordinator kabupaten program SPARC memfasilitasi sekolah lapang sawah di Kelompok Program Kampung Iklim (Kemas Proklim) Desa Palanggay, Kecamatan Pahunga Lodu, Kabupaten Sumba Timur.
Secara teknis sekolah lapang sawah difasilitasi oleh Rahmat Adinata yang lebih dikenal dengan sebutan Kang Rahmat dan Petrus Ndamung sebagai Fasilitator Lapangan Desa Palanggay. kegiatan penanaman dengan pola SRI diikuti secara antusias oleh koord. Kab. Program SPARC (Umbu Bahi).
Menurut Kang Rahmat, budidaya padi dengan pola SRI memberikan banyak keuntungan kepada petani, antara lain, hemat bibit, hemat air dan hasil panen sampai 4 atau 5 kali lipat dari budidaya konvensional. Banyak kesan masyarakat yang menarik untuk menjadi pembelajaran, antara lain: 
  • Penggunaan benih yang hanya berjumlah 8 kg untuk lahan seluas 50 are, sedangkan berdasarkan pengalaman masyarakat lahan seluas 50 are biasa memerlukan benih sampai 100 kg. 
  • Umur persemaian benih yang hanya sampai 8 hari, dianggap sebagai hal yang tidak masuk akal, karena berdasarkan kebiasaan petani setempat umur persemaian 22 sampai 30 hari.
  • Penggunaan air yang hemat, dianggap petani setempat tidak masuk akal, karena berdasarkan pengalaman masyarakat setempat padi harus diari secara terus-menerus dengan jumlah yang banyak. 
  • Walaupun dengan berbagai keraguan  (pesimis) pada akhirnya kegiatan Sekolah Lapang Sawah dapat terlaksana, berkat semangat Pengurus Kemas Proklim (Agustinus Marapraing/Ketua, Juli Rihindia/Sekretaris, Devi Ngguna Manggil/Bendahara). tahapan-tahapan sekolah lapang sawah yang telah dilakukan adalah sampai pada penanaman,sebagai berikut:
1. Seleksi Benih 
Langkah-langkah proses seleksi benih 
  • menyediakan bahan dan peralatan (garam, telur, ember) 
  • menyediakan benih kira-kira 8 kg untuk lahan seluas 50 are.
  • Pengisian air ke dalam 3 ember yang telah disediakan
  • Salah satu ember dimasukkan garam dan telur secukupnya dan diaduk sampai rata sehingga telur mengapung, telur yang mengapung dikeluarkan dari air. dan air tersebut telah siap dipakai sebagai media seleksi benih.
  • Benih dimasukkan di ember pertama (air biasa) dan benih yang mengapung dikeluarkan.
  • Benih yang tenggelam di ember pertama dimasukkan di ember kedua yang berisi air campuran garam dan telur yang te, benih yang terapung di air garam dikeluarkan
  • benih yang tenggelam di air garam dimasukkan kedalam ember ketiga (air biasa) fungsinya untuk membersihkan benih dari air garam.
2.Penyediaan Media Tanam
proses penyediaan media tanam
  • penyediaan alat dan bahan: tanah yang divampur dengan pupuk kandang  yang masak dan dicampur secara merata, karung plasit bekas, daun pisang, kayu pembuatan gala-gala.
  • pembuatan gala-gala dan karung plastik dipasang sebagi alas, selanjutnya karung plastik diletakkan diatas karung plastik.
  • Tanah yang telah dicampur dengan pupuk kandang ditebarkan diatas media yang telah disiapkan setebal 7 cm.
  • tanah disiram samapai basah sempurna.
  • benih yang telah diseleksi ditebarkan secara merata, selanjutnya benih ditabur dengan tanah yang telah dicampur dengan pupuk kandang.
  • Selanjutnya disiram  secara merata
  • selanjutnya benih yang telah disiram 3 kali sehari selama 8 hari
  • tempat persemaian harus terkena sinar matahari.
3. Persiapan lahan
proses persiapan lahan
  • lahan harus dicincang sampai halus dan diratakan.
  • disekeliling petak dibuatkan jalur  penyimpanan air, dengan ukuran dalam 20 cm dan lebar 20 cm.
  • 1 hari sebelum penanaman lahan dikeringkan sampai macak-macak
4. Persiapan jalur tanam
proses persiapan jalur tanam
  • pembuatan caplak, sebagai alat untuk membuat jalur tanam dengan jarak 25 cm x 25 cm.
  • pembuatan jalur tanam dengan menggunakan caplak pada setiap petak tanah.


Gambar 2.
Caplak, alat yang dibuat sendiri oleh petani untuk persiapan jalur tanam.
5. penanaman
proses-proses penanaman
  • setelah benih berumur 8 hari, maka benih tersebut siap untuk ditanam di lahan sawah
  • proses pengambilan benih dilakukan secara hati-hati supaya benih tidak terganggu.
  • selanjutnya benih ditanam sesuai dengan jarak yang telah dibuat dengan caplak (25 x 25 cm).
  • selanjutnya benih padi ditanam 1 batang untuk setiap lubang dengan jarak (25 x 25 cm).
  • penanaman benih tidak harus dengan dibenamkan batang dan akarnya kedalam tanah, tetapi cukup ditempel diatas tanah.
  • selanjutnya padi diari sekali dalam seminggu dengan ketinggian 20 cm, selam 1 jam.
Demikianlah proses sekolah lapang sawah yang telah dilakukan, kegiatan selanjutnya adalah kegiatan analisa agro, pemupukan, pengendalian hama terpadu, pengontrolan air, sampai pada tahap panen.
Bersambung..........JOS (Jangan Omong Saja!!!!)



Sosialisasi Program SPARC-UNDP dan Pengkajian Potensi dan Masalah Desa

Sosialisasi Program SPARC-UNDP dan Pengkajian Potensi dan Masalah Desa

Sebagai Lembaga yang bertanggung-jawab terhadap pelaksanaan program SPARC (Strategic Planning and Action to Strengthen Climate Resilience of Rural Communities) kerjasama dengan UNDP, Pemerintah Daerah Kab. Sumba Timur (Bappeda, BLH, Dinas Pertanian) dalam rangka memperkuat ketahanan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim khususnya menyangkut Ketahanan pangan, Ketersediaan Sumber Air dan Livelihood, maka Yayasan KOPPESDA bersama BAPPEDA,  BLH, Dinas Pertanian Kab Sumba Timur dan Koord. Kabupaten Program SPARC telah melaksanakan kegiatan Sosialisasi Program dan Pengkajian Potensi dan Masalah Desa dalam menghadapi Perubahan Iklim dengan menggunakan metode PRA (Partisipatif Rural Appraisal) sekaligus survey dan pengukuran debit mata air di Desa Katikuwai, Tarimbang, Tamma dan Desa Praimadita.
Program SPARC dilaksanakan di 7 desa yang dianggap sebagai desa-desa yang rentan terhadap perubahan iklim. dari 7 desa tersebut 3 desa lainnya (Napu, Palanggay dan Rakawatu) telah masuk pada tahap pelaksanaan kegiatan, karena proses kajian dan penyusunan proposal telah dimulai dari tahun 2014.


Foto-foto Kegiatan Sosialisasi dan Kajian di Desa  Katikuwai, Tarimbang, Tamma dan Desa Praimadita.



Deskripsi Lembaga



Profil 
Yayasan KOPPESDA

Yayasan Koordinasi Pengkajian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam (KOPPESDA) merupakan sebuah lembaga nirlaba yang independen, dibentuk dengan akte Notaris Pau Djara Liwe, SH No.1 pada tanggal 1 Juli 2000. Pada tahun 2013, KOPPESDA merevisi legalitas organisasi untuk menyesuaikan dengan Peraturan Pemerintah republik indonesia N0. 2 Tahun 2013 tentang Perubahan peraturan pemerintah No.63 tahun 2008. dengan akte Notaris Pau Djara Liwe, SH Tanggal 29 April 2013, No. 92. Pada tahun 2014 KOPPESDA terdaftar di kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan Nomor AHU-0010972.50.80.2014 tanggal 19 Desember 2014.


Gagasan pendirian KOPPESDA diawali dengan membentuk sebuah Tim Peneliti pada akhir tahun 1996 yang mengemban tugas untuk memfasilitasi kegiatan penelitian aksi partisipatif di sejumlah kawasan prioritas. Kawasan-kawsan penting yang menjadi prioritas bagii ajang belajar bersama dan pengembangan program meliputi: Taman Nasional Laiwanggi Wanggameti danTaman Nasional Manupeu Tanadaru di Sumba, Kawasan Konservasi Riung di Flores, Cagar Alam Gunung Mutis di Timor, Kawasan hutan Gunung Rinjani di Lombok, kawasan hutan Gunung Tambora dan Selalu Legini di Sumbawa. Dalam kurun waktu lebih dari empat tahun (1996-2000), Tim Peneliti, selanjutnya dikenal dengan Tim KOPPESDA, telah memfasilitasi kegiatan penelitian aksi partisipatif yang melibatkan para pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan sumberdaya alam di lima kawasan prioritas di Nusa Tenggara.  Kegiatan tersebut tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan akan pelengkapan data dan informasi, melainkan juga dalam upaya pengelolaan sengketa, pengembangan jaringan kerjasama dan kemitraan, pengembangan metode, dan menstimulasi inisiatif lokal bagi penyelesaian masalah-masalah  pengelolaan sumberdaya alam.  

Visi :


Mewujudkan masyarakat yang sejahtera dan mampu mengelola sumberdaya alam secara berkelanjutan demi peningkatan kualitas hidup yang setinggi- tinginya. 



Misi:
  1. Mendasarkan pada penelitian dan pengkajian sebagai basis utama dalam mendesain program dan pendekatan yang akan diimplementasikan pada level pemerintahan Kabupaten, Desa dan Masyarakat.
  2. Terwujudnya model pengelolaan sumberdaya alam berbasis masyarakat yang berkelanjutan dan demokratis yang memberikan rasa aman, kepastian hak dan kewajiban melalui hubungan kemitraan.
  3. Mendukung usaha pemberdayaan masyarakat dan organisasi masyarakat untuk konservasi keanekaragaman hayati.
  4. Berkembangnya kebijakan pengelolaan sumberdaya alam yang mengakomodasikan secara proporsional berbagai kepentingan.
  5. Membangun Koppesda sebagai lembaga profesional dan terpercaya yang mampu memfasilitasi berbagai pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan sumberdaya alam berbasis masyarakat.
Struktur
 Yayasan KOPPESDA



Dalam upaya pencapaian Visi dan Misi Lembaga, maka Yayasan KOPPESDA bekerjasama berbagai piihak terkait, seperti masyarakat di Desa, sesama Lembaga Sawadaya Lokal (Yayasan Tananua Sumba, Yayasan Pahadang Manjoru, Lembaga Pelita, Stimulant Institut, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur dan pihak-pihak lain seperti lembaga-lembaga Donor (UNICEF, UNDP, World Neighboors, Samdhana Institut, dan pihak Universitas seperti Charles Darwin University, Cornell University, Undana Kupang, dll.

Program Dan Kegiatan
Program dan kegiatan yang dikembangkan sampai dengan tahun 2015
  1. Pengembangan Pemantauan Ekosistem Taman Nasional secara Kolaboratif di Taman Nasional Laiwanggi Wanggameti.
  2. Pengembangan Forum Tingkat Kawasan FK3LW (Forum Komunikasi Kawasan Konservasi Laiwanggi Wanggameti).
  3. Pengembaangan Metode Penataan Batas Kawasan Hutan Partisipatif di Taman Nasional Laiwangi-Wanggameti (Tata Kelola Bersama Taman Nasional Laiwanggi Wanggameti.)
  4. Pengembangan Centra Informasi terutama data dan informasi yang mendukung proses pengelolaan Konflik diTaman Nasional Laiwanggi Wanggameti.
  5. Pengembangan Ekowisata di desa Wanggameti
  6. Pengelolaan  dan Mengembangkan Learning Center (SIMPUL 16+)
  7. Pengembangan organisasi masyarakat sekitar Kawasan Taman Nasional Laiwanggi Wanggameti  (KMPH dan Forum Anda Li Luku Pala/FALP), kerjasama dengan Yayasan Tananua Sumba dengan dukungan dana dari Ford Foundation
  8. Pengembangan Forum DAS Kambaniru Tingkat Kawasan dan Forum pengelola DAS Kambaniru Tingkat Kabupaten Sumba Timur
  9. Pengembangan Media belajar pengelolaan DAS secara terpadu di kawasan DAS Kambaniru
  10. Program Pengarustamaan gender ”pengembangan metodologi kepemimpinan perempuan dalam pengelolaan sumberdaya alam ”
  11. Program Perencanaan dan penganggaran Partisipatif di Kawasan DAS Kambaniru kerjasama dengan Yayasan Cendana Mekar dengan dukungan pendanaan dari ACCESS
  12. Kajian Dampak perubahan iklim terhadap pertanian lahan kering dan identifikasi daerah rawan bencana
  13. Pemetaan daerah rawan bencana secara partisipatif
  14. Pengembangan Pertanian organic
  15. Program Penguatan Kapasitas local untuk meningkatkan ketahanan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya alam di kawasan DAS Kambaniru kerjasama dengan World Neighboors
  16. Penguatan Kapasitas Lokal untuk Meningkatkan  Ketahanan Masyarakat Terhadap Dampak  Perubahan Iklim
  17. Penguatan Kapasitas Lembaga dan Staff.
  18. Program Strategic Planning and Action to Strengthen Climate Resilience of Rural Communities (SPARC) kerjasama dengan UNDP, Pemerintah Daerah Kab. Sumba Timur (Bappeda, BLH, Dinas Pertanian). Tahun 2015-2016
  19. Program Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat Kerjasama dengan UNICEF, tahun 2014-2015
  20. Program Australia Indonesia Partnership for Justice (AIPJ) berkonsorsium dengan Lembaga Pelita dan Stimulant Institut