Monday, 18 July 2016

SLI, Solusi Memperkuat Ketahanan Masyarakat Dalam Menghadapi Perubahan Iklim Di Kab. Sumba Timur


LATAR BELAKANG

Perubahan Iklim merupakan tantangan bagi kita semua, khususnya dibidang pertanian, perikanan dll. dalam rangka meningkatkan kapasitas, kemampuan adaptasi masyarakat, maka KOPPESDA, BMKG, KLHK, UNDP-SPARC dan Bappeda Kab/Provinsi mengembangkan Sekolah Lapang Iklim (SLI) di Kab. Sumba Timur. Kegiatan ini berlangsung dari Bulan Maret 2015 hingga Bulan April 2016.

1      Pertanian merupakan salah satu kegiatan manusia yang sangat tergantung pada iklim mulai dari perencanaan, penanaman hingga panen, karena Iklim adalah unsur utama yang berpengaruh dalam sistem metabolisme dan fisiologi tanaman

2.     Iklim tidak lagi bersahabat dengan petani, karena adanya perubahan iklim (pergeseran musim, curah hujan tidak menentu, kekeringan, intensitas curah hujan yang tinggi, dll) yang akan bersampak buruk pada sumber-sumber penghidupan, khususnya di bidang pertanian (keberlanjutan ketahanan pangan).


3.   Kearifan Lokal sebagai salah satu acuan dalam usaha pertanian (untuk penentuan musim olah lahan, tanam dst) tidak lagi dapat dipergunakan oleh petani, karena sudah lama ditinggalkan

TUJUAN SLI (Sekolah Lapang Iklim) 
  1. membangun kemampuan masyarakat pada umumnya dan masyarakat tani khususnya dalam melakukan antisipasi dan adaptasi perubahan iklim, serta melakukan mitigasi terhadap dampak yang ditimbulkan.
  2. Tujuan khusus :
(a)  meningkatkan kemampuan petani dalam mengidentifikasi indikator anomali dan perubahan iklim yang dapat berdampak buruk terhadap sumber-sumber penghidupan, khususnya di bidang pertanian
(b) Meningkatkan  kemampuan petani berdasarkan IPTEK dalam melakukan upaya adaptasi untuk mengurangi dampak buruk iklim, khususnya di bidang pertanian
(c) Mengkolaborasikan informasi iklim dengan kearifan lokal, dalam pengembangan usaha pertanian 

Kegiatan SLI dilaksanakan di tingkat Kelompok Masyarakat Program Kampung Iklim (Kemas Proklim) secara khusus di 3 Desa sasaran Program SPARC (Palanggay, Rakawatu dan Napu).

Peta Lokasi Pengembangan SLI di Kab. Sumba Timur

  1.  Desa Palanggay, Kec Pahunga Lodu, merupakan desa yang ada di sebelah timur pulau sumba. Luas wilayah mencapai 90 km2 atau 9000 ha dengan ketinggian 88 dpl.
  2. Desa Napu, Kec. Hahar, merupakan desa  yang terletak di bagian pesisir pantai utara bagian barat, Kabupaten Sumba Timur.  Desa ini  memiliki luas wilayah mencapai 14,26 km2 atau 1.426, 0 ha dengan ketinggian  207 dpl.
  3.  Desa Rakawatu Kec. Lewa, Terletak di Sumba Timur bagian barat, Kecamatan Lewa. memiliki luas 16,6 km2 atau 1.660 ha,  merupakan desa pedalaman dengan ketinggian 543 dpl. 
Tabel. 1 Data Penduduk








No
Desa
 Jml Jiwa
Jml KK
L
 P
 Total
1
Palanggay
341
363
704
168
2
Napu
429
411
840
221
3
Rakawatu
678
695
1.373
332

TAHAPAN PENGEMBANGAN SEKOLAH LAPANG IKLIM

I. Pengenalan  SLI di 3 Desa Sasaran bersama BMKG Waingapu dan BP3K
Suasana Pelaksanaan SLI di Desa Palanggay
 Pada tahap pengenalan ini BMKG menyampaikan materi – dasar tentang  tentang:

  1. iklim, cuaca, suhu,  dan factor- faktor yang mempengaruhinya seperti angin, pengaruh El Nino dan El Nina. 
  2. Kondisi iklim dan curah hujan di Sumba dan pengaruh wilayah (australia), terhadap sumba (angin puting beliung, badai tropik, dll)
  3. prediksi curah hujan untuk bulan berikutnya, tetapi keakuratannya hanya sebatas 80%.hal ini terjadi karena masih minim sarana prasarana pencacah curah hujan disetiap kecamatan atau desa serta tidak terupdatenya data dari beberapa kecamatan yg sudah dilengkapi alat pencacah.
  4. Peran kearifan lokal untuk menyesuaikan diri dengan anomali iklim, sehingga dampak buruk anomali iklim dapat dikurangi.
       II. Pemasangan alat pencacah curah hujan manual (ombrometer) dan                  pelatihan pemantauan data curah hujan
Pemasangan Alat Pencacah CH di Desa Napu
          Pada Tahap ini BMKG Waingapu memberikan materi tentang:
  1. cara penggunan alat pencatat curah hujan dalm memprediksi curah hujan yang ada di suatu daerah.
  2.  Manfaat/kegunaan alat pencacah curah hujan dalam memprediksi curah hujan.
  3. Pencatatan data curah hujan secara teratur (setiap hari) untuk meningkatkan keakuratan data untuk keperluan analisa dan perdiksi kondisi iklim, sehingga dapat bermanfaat untuk kegiatan-kegiatan masyarakat dalam mengurangi dampak buruk anomali iklim
  4. Peran Pengurus Kemas Proklim sebagai Relawan dalam melakukan pengisian data curah hujan
 III. Pegisian data curah Hujan oleh Relawan (Kemas Proklim)

Tabel 2. Contoh Tabel Pengisian data curah Hujan
Bulan
jml Hujan Sebulan
Byk Hari Hujan Sebulan
Jml Rat2 Hujan dlm sebulan
Jml Rata2 CH dlm sebulan
mm
hari
mm/hr
mm/bln
Agu
0
0
0
0
Sept
0
0
0
0
Okt
0
0
0
0
N ov
1.40
1
0.04667
1.4
Des
1.52
12
4.9129
12.9129
Jan
212
6
6.83871
35.3333
Feb
383.9
16
13.2379
23.9938
Mar
356.4
12
11.4968
29.7
Apr
135.9
11
4.53
12.3545
Mei
69.5
6
2.24194
11.5833
Juni
23.5
3
0.78333
7.83333

TANTANGAN PENGEMBANGAN SEKOLAH LAPANG IKLIM
  1. Kerelawanan dari Pengurus Kemas Proklim
  2. Jaringan Kemitraan dengan pihak-pihak hak terkait dalam pengelolaan, pemeliharaan dan pemanfaatan  data curah hujan (BMKG, BLH, Distan, BP3K).
  3. Peningkatan Kapasitas  dan peran Kemas Proklim sebagai Pusat Informasi Iklim di Desa (Posko Iklim)
Yang Belum Dilakukan 
  • Pada Juli 2016 NTT secara umum dan Sumba memasuki iklim basah/ kemarau basah (La Nina)yang membawa dampak buruk bagi petani (produksi menurun, serangan hama, dll). Selain membawa dampak buruk, kalau diantisipasi dengan baik, maka hal tersebut membawa dampak positif (Jagung Kedua, dll).
  • Peran yang dapat dimainkan:
  1. Menjadi tempat belajar (pelatihan, demplot) untuk dapat mengantisipasi/beradaptasi dengan kondisi iklim yang berubah, sehingga dampak negatifnya dapat di kurangi.
  2. Bekerjasama dengan Distan dan BP4K kab. Sumba Timur untuk mendesimininasikan informasi tentang Kalender Tanam Terpadu 
  3. Bekerjasama dengan BMKG (waingapu dan Lasiana Kupang) mendesimininasikan informasi iklim berbasis SMS atau Android
  4. Bekerjasama dengan media informasi Radio Pemerintah dan Swasta/Pemerintah, media sosial untuk penyebarluasan informasi iklim.
  5. Menjadi wadah untuk belajar informasi iklim melalui media, leaflet, brosur, modul, dll 
MANFAAT  PENGEMBANGAN POSKO IKLIM DI TINGKAT DESA/KECAMATAN.
  1. Masyarakat (petani) mengetahui dan dan memanfaatkan informasi tentang peluang hari hujan dan peluang hari kering.
  2. Masyarakat (petani) dapat mempunyai kapasitas untuk menyesuaikan musim tanam berdasarkan informasi iklim 
  3. Masyarakat dapat menyesuaikan varietas dan jenis tanaman sesuai dengan peluang hari hujan dan peluang hari kering 
  4. Masyarakat dapat mengantisipasi kemungkinan tantangan dalam usaha pertanian (hama penyakit, banjir, erosi, dll)

"Hasil Akhir Yang Diharapkan Adalah Kemandirian Pangan Masyarakat di Era Tantangan Perubahan Iklim".
File Presentasi dapat di unduh di sini!https://docs.google.com/presentation/d/165CPTRcEhv6kEQG2PUAOmLy-cXfSU9bQCkrid_Ub8ZQ/edit#slide=id.p3
(DK) 






Monday, 23 May 2016

"Biochar"  Solusi Cerdas Untuk Mengatasi Ancaman Kekeringan Sekaligus Meningkatkan Kesuburan Tanah
Oleh 
Staf KOPPESDA

Pengembangan Biochar merupakan salah satu strategi adaptasi perubahan iklim yang dapat dilaksanakan di tingkat masyarakat. program Biochar sendiri dikembangkan di Negara Indonesia, Uganda dan Zambia dari tahun 2011-2018.
Tujuan dari penerapan biochar dalam kegiatan pertanian adalah untuk mendukung keberlanjutan mata pencaharian dengan produktifitas tinggi, meningkatkan ketahanan sumber daya air, serta penyediaan energi dengan sumber daya lokal yang terbarukan.
Praktek ini telah dilakukan dibeberapa wilayah yaitu Sulawesi Tengah, Nusa tenggara Timur dan Kalimantan Selatan. khusus di Nusa Tenggara Timur, Kegiatan ini dilakukan di tiga Kabupaten yaitu Kabupaten Sumba Timur, Manggarai dan Sabu Raijua. 
Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu wilayah yang menjadi fokus pelaksanaan kegiatan didasarkan bahwa masyarakat petani NTT mempunyai ketergantungan yang sangat besar pada iklim untuk mata pencaharian dan pasokan air. kerentanan terkait perubahan iklim akan mengalami peningkatan frekuensi dan intesitas banjir dan kekeringan akibat iklim yang berubah. petani skala kecil adalah pihak yang lebih rentan dan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi iklim yang kestrim. sementara iklim yang sedang berubah diperkirakan akan berdampak pada keamanan sumber mata pencaharian, pangan dan air. 
Manfaat Biochar
Pertanian berbasis biochar merupakan salah satu upaya adaptasi pada tantangan perubahan iklim dan mendorong upaya pengelolaan lahan pertanian yang berkelanjutan yang menjaga kesuburan lahan, merotasi lahan kritis dan meningkatkan produktifitas dan kualitas hasil pertanian. 
beberapa manfaat dari pertanian berbasis biochar yaitu peningkatan kuantitas panen, musim panen yang lebih mudah diprediksi, waktu berkecambah yang lebih singkat, musim tanam yang lebih panjang dan peningkatan ketahanan pada kekeringan.  
Biochar juga meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kelembaban di wilayah yang rentan kekeringan dan meningkatkan penyaluran air di permukaan dan dalam tanah di wilayah rentan banjir. biochar juga melepaskan unsur kalium, mangan dan potasium yang menyuburkan tanah dan mengurangi kelarutan unsur kimia, seperti alumunium, yang menghambat pertumbuhan tanaman, selain itu biochar dapat meningkatkan ketersedian unsur hara dengan mengurangi peluruhan unsur hara dan pelepasan unsur hara yang efisien.
Dalam rangka replikasi pemanfaatan Biochar di Kabupaten Sumba Timur, maka UNDP-SPARC, Balai Pengkajian Pertanian Terpadu (BPTP) Propinsi NTT, Geng Motor Imut dan KOPPESDA melaksanakan kegiatan pelatihan pemanfaatan biochar untuk lahan kering. kegiatan ini berlangsung pada tanggal 16-18 Mei 2016 di Desa Palanggay dan melibatkan 7 orang Pendamping Lapangan program UNDP-SPARC dan perwakilan BP3K/penyuluh serta pengurus Kelompok Masyarakat Program Kampung Iklim (Kemas Proklim) dari 7 Desa sasaran program UNDP-SPARC ( Desa Napu, Rakawatu, Tarimbang, Katikuwai, Praimadita dan Tamma). 
Langkah-langkah pembuatan Biochar
Pada kegiatan ini praktek pembuatan biochar menggunakan Kontiki dengan tujuan untuk mendapatkan biochar yang rendah emisi. 
langkah-langkah dalam pembuatan bochar rendah emisi ini yaitu:
1. persiapan lahan seluas 3,2 x 3,2 M dan pembuatan lahan kontiki dengan diameter 3,2 M x 1,5 M.


2. menyiapkan bahan biochar (Biomasa) Kayu kering 1 m3, sekam padi 1 m3, dan batang jagung 1 m3. setelah semua bahan terkumpul, langkah selanjutnya adalah memasukkan bahan biochar ( biomasa) kedalam lubang yang telah digali, dengan catatan bahan biochar yang lebih keras terlebih dahulu. Pada saat penyusunan bahan perlu diperhatikan, harus membuat rongga udara.

3. Proses pembakaran dilakukan dengan cara memasukkan bahan biochar yang keras, kemudian dilanjutkan dengan memasukkan batang jagung dan sekam padi. proses ini dilakukan dengan cara tetap menjaga api tetap menyala dan lakukan pembalikan secara terus menerus secara merata.
4. Setelah proses pembakaran selesai dilakukan, maka biochar yan telah matang disiram dengan air secukupnya, atau ditutup dengan tanah secukupnya dan setelah dingin, biochar dihaluskan dan siap ditaburkan/digunakan di lahan pertanian

Pemanfaatan Biochar, Bersambung di Edisi Berikut...........................