Saturday, 31 March 2018

Mengenal SRI (System of Rice Intesification) di Sumba Timur


Oleh 
Johny Joz 
(Staf Ahli Pertanian Lahan Basah Program SPARC, Kab. Sumba Timur)

Apa Itu SRI ? SRI merupakan singkatan dari System of Rice Intensification, Berdasarkan sejarahnya pola SRI ditemukan oleh Pendeta Madagaskar Henri de Laulanie sekitar tahun 1983 di Madagaskar karena SRI Laulanie menemukan bahwa produktivitas pertanian (padi) masyarakat Madagaskar kurang maksimal. Berdasarkan percobaannya Laulanie bisa melipatgandakan produktivitas pertanian (padi) secara mencengangkan.
Umtuk wilayah Kabupaten Sumba Timur, Pola SRI relatif merupakan hal yang baru dan belum masif di kembangkan. pola ini masih dikembangkan dalam bentuk percontohan oleh para pegiat pertanian, antara lain dari Dinas Pertanian,i BP4K dan BP3K, maupun pekerja sosial seperti Rahmat Organik, yang akrab dipanggil Kang Rahmat Organik.

Keunggulan Metode SRI
Berdasarkan hasil pengembangan di masyarakat, maka ada beberapa keunggulan pola SRI, yang apabila dilaksanakan dengan optimal dan intensif akan berdampak pada peningkatan produksi padi yang sangat baik.

 1.Seleksi Benih Unggul.
Melalui seleksi benih dengan metode sederhana, menggunakan media air, garam, telur sehingga benih padi yang akan disemai merupakan benih unggul. Langkah pertama adalah melakukan seleksi benih dengan air tawar, benih yang akan disemai di tuang di dalam wadah ember atau baskom yang berisi air tawar, lalu kita mengeluarkan benih yang terapung.
Gambar 1.
bibit padi usia 10 hari
Langkah kedua adalah menuangkan garam secukupnya ke dalam air tawar, dan menggunakan telur ayam sebagai alat untuk mengukur massa dari air tersebut, apabila telur telah mengapung, karena massa air yang telah di campur dengan garam menjadi lebih besar daripada masa telur ayam,  maka air yang telah dicapur dengan garam telah siap digunakan sebagai media seleksi benih unggul. Benih padi yang telah disiapkan di tuang dalam air yang telah di campur garam dan selanjutnya adalah mengambil benih yang terapung, sehingga benih yang tersisa adalah benih unggul yang siap di semai.

 2.Penggunaan air.
Pola SRI hanya menggunakan air sampai keadaan tanahnya sedikit terlihat basah oleh air (macak-macak), sehingga tidak terlalu membutuhkan suplai air yang banyak. Tanah yang tergenang air pada dasarnya akan menyebabkan kerusakan pada struktur padi, padi membutuhkan air tetapi tidak terlalu banyak. Hal lain yang ditimbulkan oleh proses penggenangan adalah timbulnya hama, tetapi yang perlu diperhatikan bahwa pengairan padi pada dasarnya tergantung dari  kondisi dan sifat tanah, kalau tanah dengan kandungan pasir yg tinggi, maka penggunaan air perlu diperhatikan dengan baik, sehingga lahan tidak sampai kering dan retak, karena akan mempengaruhi pertumbuhan akar padi.

 3. Penanaman usia muda.
Penanaman yang baik dilakukan saat berusia 10-14 hari sehingga tanaman padi mempunyai waktu yang panjang di fase vegetatif tanam menjadi, jika penanaman padi dilakukan ketika bibit berusia 12 hari, maka fase pertumbuhannya menjadi lebih lama, yaitu antara 12-55 hst,  (43 hari), sehingga tanaman berkembang dengan baik dan jumlah anakan akan banyak.

Gambar 2.
penanaman dengan Pola SRI di Desa Praimadita.
 4. penanaman satu bibit per titik tanam.
Penanaman 1 bibit per titik tanam dimaksudkan supaya tidak terjadi persaingan untuk mendapatkan nutrisi, cahaya matahari, udara, dan bahan lainnya dalam suatu titik atau area tanam. Kebutuhan benih yang sedikit memberikan keuntungan bagi petani, karena bisa menghemat kebutuhan benih.

5.Penanaman dangkal (akar tidak dibenamkan dan ditanam horizontal).
Penanaman dangkal bertujuan supaya proses pertumbuhan dan asimilasi nutrisi akar muda berlangsung dengan baik. Jika ditanam terbenam, maka akan timbul kekurangan oksigen yang menimbulkan peracunan akar, dan gangguan siklus nitrogen yang dapat menyebabkan pelepasan energi, pertumbuhan struktur akar menjadi tidak lengkap.

6. Jarak tanam yang cukup lebar.
Gambar 3.
Pertumbuhan padi rata-rata 36 batang di usia 40 Hst,
dengan jarak tanan 25 x 25 cm
Jarak tanam yang ideal adalah 20-25 cm untuk setiap titik tanam. Jarak tanam yang relatif lebar dimaksudkan supaya  nutrisi, udara, cahaya matahari, dan bahan lainnya tersedia dalam jumlah cukup untuk suatu rumpun padi.

 7. Penggunaan Pupuk Organik.
Melalui pola SRI, dianjurkan untuk menggunakan pupuk organik padat (kotoran ternak atau kompos) dan pupuk organik cair, pemberian pupuk organik padat bisa diaplikasikan sebagai pupuk dasar, sedangkan pemberian pupuk Cair bisa dilakukan (2) dua kali yaitu ketika berusia 30 Hst I dan 50 Hst II.
Pemberian POC Organik yang dibuat sendiri, perlu memperhatikan terpenuhinya unsur-unsur N, P dan K.

Peran unsur N (nitrogen) merupakan salah satu unsur penting yang dibutuhkan padi untuk pembentukkan hijau daun, pertumbuhan tanaman, perkembangan anakan dan pertumbuhan daun. Kekurangan (unsur N) dapat menyebabkan: Tanaman menjadi kerdil, daun tanaman kuning , dan hasil  produksi rendah.
Kelebihan Urea (unsur N) dapat menyebabkan: Pertumbuhan vegetatif terlalu subur, tanaman mudah rebah, mudah diserang hama dan penyakit. Salah satu sumber unsur N adalah Kencing ternak, kotoran ternak, daun-daunan hijau, dll.
Peran unsur P (Fospor) adalah untuk merangsang pertumbuhan akar, pertumbuhan tanaman, memberbesar anakan dan gabah serta memberbesar bulir padi. Pemberian POC dengan kandungan unsur P sangat cocok diaplikasikan pada fase vegetatif dan fase generatif.  Salah satu sumber unsur P adalah tulang hewan, batang pisang, dll.
Peran unsur K (Kalium),  adalah untuk membuat batang kokoh sehingga tidak roboh, buah tidak mudah rontok, hama penyakit tidak mudah menyerang tanaman dan membuat gabah menjadi beris.Unsur K dapat diperoleh dari sabut kelapa, jerami dll.
Peran penting Pupuk organik, baik padat maupun cair, karena pupuk organik tidak hanya berperan sebagai sumber nutrisi (pupuk) tetapi juga berperan sebagai mikroorganisme lokal (MOL) atau bio reaktor (reaktor hidup) yang dapat mendukung peningkatan produktivitas tanaman padi. Fungsi dari bio reaktor sangatlah kompleks antara lain, sebagai penyuplai nutrisi, kontrol mikroba sesuai kebutuhan padi, menjaga stabilitas kondisi tanah sehingga ideal bagi pertumbuhan padi.

Tantangan
Petani kita sudah terlanjur memiliki mind set bahwa untuk meningkatkan produksi padi yang meningkat, maka  pertanian harus menggunakan pupuk dan pestisida kimia. NPK (Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama) merupakan kebutuhan rutin para petani kita. Kita sedang mengalami masa kejayaan penggunaan pupuk dan pestisida dari kimia sebagai imbas dari gerakan revolusi hijau. Petani kita tidak lagi memahami bahwa tanah kita butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita. sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia yang merusak lingkungan  dan berakibat pada tingkat kesuburan tanah yang semakin menurun.
Pada saat ini, masyarakat semakin tergantung dengan berbagai produk kimia, bahkan terjadi kelangkaan pupuk, saatnya kita kembali pada pola pertanian yang selaras dengan alam, yang memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia begitu banyak.

Peluang
Berdasarkan keunggulan pola SRI diatas, maka melalui Program SPARC (Strategic Planning and Actions to Strengthen Climate), yang didukung oleh Kementrian Lingkungan Hidup & Kehutanan, United Nations Development Programe (UNDP), Bappeda Provinsi NTT, Bappeda Kab. Sumba Timur bekerja sama dengan Yayasan Koppesda, menggalakan dan mempromosikan sistem pertanian padi sawah dengan Pola SRI. Pola SRI juga merupakan salah satu strategi untuk mendukung ketahanan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim yang dampaknya semakin di rasakan oleh masyarakat.
Percontohan Pola SRI telah dilakukan di Dsa Palanggay, Desa Rakawatu, Desa Tamma, Desa Katikuwai dan Desa Praimadita, kegiatan percontohan ini diharapkan mendorong para petani untuk belajar tentang keunggulan pola SRI!.
Mari kita optimalkan hasil produksi kita dari hal yang yang kecil, dari lahan yang kecil, dari bahan-bahan lokal dengan memperbaiki sistem pertanian, dengan System of Rice Intensification (SRI).
Waingapu 31/03/2018



Silahkan menonton video testimoni dibawah






Post a Comment