Selamat Datang

23 July 2020

Pengembangan Hortikultura Organik Berbasis Agribusiness di Jemaat GKS Praingkareha



Gambar. 1
Penyampain Materi tentang Budidaya Hortikultura Secara Organik
Pendahuluan

Pertanian organik merupakan jawaban atas revolusi hijau yang digalakkan pada tahun 1960-an. Revolusi hijau pertama kali muncul karena adanya kekhawatiran terjadinya kemiskinan massal di dunia yang diakibatkan oleh ketidakseimbangan pertumbuhan di berbagai negara. Di Indonesia sendiri, pelaksanaan program Revolusi hijau ditandai dengan dilaksanakannya program-program yang mengharuskan petani meninggalkan cara bertani secara tradisional dan beralih ke cara-cara bertani yang lebih modern, dengan input bahan-bahan kimia/sintesis (pupuk, pestisida,herbisida, dll). tujuan dari Revolusi Hujau sendiri adalah untuk mengurangi kemiskinan dan mencapai swasembada pangan.  
Puncak dari kesuksesan revolusi hijau ini yaitu tercapainya swasembada beras di tahun 1984 dengan dukungan BIMAS (Bimbingan Massal) dan INMAS (Intensifikasi Massal), serta pemakaian bibit unggul, pupuk dan obat pembasmi hama ( dalam http://new.litbang.pertanian.go.id).
Gambar 2.
Peserta Pelatihan
Pertanian organik (Organic Farming) sebenarnya bukan hal baru, sudah dilakukan sejak ilmu bercocok tanam dikenal manusia, bahkan merupakan kearifan lokal yang dilaksanakan secara tradisional dengan menggunakan bahan-bahan alamiah oleh masyarakat di berbagai belahan dunia, misalnya saja, kearifan lokal masyarakat di Amazon yang sampai saat ini memanfaatkan media tanam yang sangat subur yang disebut sebagai Terra Preta (Tanah Hitam). sistem pertanian organik  bertujuan supaya  tanaman dan tanah tetap sehat melalui cara pengelolaan tanah dan tanaman yang disyaratkan dengan pemanfaatan  bahan-bahan organik atau alamiah sebagai input sedangkan Produk organik adalah  produk (hasil tanaman/ternak yang diproduksi melalui praktek-praktek yang secara ekologi, sosial ekonomi berkelanjutan, dan mutunya baik (nilai gizi dan keamanan terhadap racun terjamin). 

Semangat dan Kebijakan Pengembangan Pertanian Organik
Pengelolaan pertanian organik didasarkan pada prinsip kesehatan, ekologi, keadilan, dan perlindungan. Prinsip kesehatan dalam pertanian organik adalah kegiatan pertanian harus memperhatikan kelestarian dan peningkatan kesehatan tanah, tanaman, hewan, bumi, dan manusia sebagai satu kesatuan karena semua komponen tersebut saling berhubungan dan tidak terpisahkan. Semangat untuk kembali memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan, antara lain dengan semboyan  back to nature” isu yang selalu dikumandangkan oleh berbagai pihak yang menyadari dampak negatif penggunaan bahan kimia seperti pupuk, pestisida, herbisida,dll.
Gambar 3.
Praktek Pembuatan Pupuk organik dan Bio Pestisida di Praingkareha
Prinsip-prinsip pertanian organik menjadi dasar dalam penumbuhan dan pengembangan pertanian organik. Menurut IFOAM, 2008  (dalam http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id) adalah sebagai berikut:
  1. Prinsip kesehatan : pertanian organik harus melestarikan dan meningkatkan kesehatan tanah, tanaman, hewan, manusia dan bumi sebagai satu kesatuan dan tak terpisahkan;
  2. Prinsip ekologi : Pertanian organik harus didasarkan pada sistem dan siklus ekologi kehidupan. Bekerja, meniru dan berusaha memelihara sistem dan siklus ekologi kehidupan. Prinsip ekologi meletakkan pertanian organik dalam sistem ekologi kehidupan, yang bahwa produksi didasarkan pada proses dan daur ulang ekologis. Siklus-siklus ini bersifat universal tetapi pengoperasiannya bersifat spesifik-lokal;
  3. Prinsip keadilan : Pertanian organik harus membangun hubungan yang mampu menjamin keadilan terkait dengan lingkungan dan kesempatan hidup bersama; dan 
  4. Prinsip perlindungan : Pertanian organik harus dikelola secara hati-hati dan bertanggung jawab untuk melindungi kesehatan dan kesejahteraan generasi sekarang, generasi mendatang serta  lingkungan hidup.
Selanjutnya budidaya tanaman organik harus memenuhi persyaratan – persyaratan sebagai berikut :
  1. Lingkungan, Lokasi kebun harus bebas dari kontaminasi bahan-bahan sintetik.  Karena itu pertanaman organik tidak boleh berdekatan dengan pertanaman yang memakai pupuk buatan, pestisida kimia dan lain-lain yang tidak diizinkan.  Lahan yang sudah tercemar (intensifikasi) bisa digunakan namun perlu konversi selama 2 tahun dengan pengelolaan berdasarkan prinsip pertanian organik; 
  2. Bahan Tanaman, Varietas yang ditanam sebaiknya yang telah beradaptasi baik di daerah yang bersangkutan, dan tidak berdampak negative terhadap lingkungan;
  3. Pola Tanam, Pola tanam hendaknya berpijak pada prinsip-prinsip konservasi tanah dan air, berwawasan lingkungan menuju pertanian berkelanjutan;
  4. Pemupukan dan Zat Pengatur Tumbuh  Bahan organic, Berasal dari kebun atau luar kebun yang diusahakan secara organik;
  5. Kotoran ternak, kompos sisa tanaman, pupuk hijau, jerami, mulsa lain, urin ternak, sampah kota (kompos) dan lain-lain dan tidak tercemar bahan kimia sintetik atau zat-zat beracun. Pupuk buatan (mineral), Urea, ZA, SP36/TSP dan KCl, tidak boleh digunakan. K2SO4 (Kalium Sulfat) boleh digunakan maksimal 40 kg/ha; kapur, kieserite, dolomite, fosfat batuan boleh digunakan, Semua zat pengatur tumbuh tidak boleh digunakan.;
  6. Pengelolaan Organisme Pengganggu, Semua pestisida buatan (kimia) tidak boleh digunakan, kecuali yang diizinkan dan terdaftar pada IFOAM. (http://sulsel.litbang.pertanian.go.id/)
Gambar 4.
Proses Fermentasi POC dan Bio Pestisida
Pemerintah Indonesia, juga mengeluarkan berbagai regulasi dan kebijakan untuk mendorong berkembangnya pertanian organic. Walaupun kebijakan tersebut masih diperdebatkan oleh banyak pihak karena dianggap belum sepenuhnya memberikan perlindungan bagi petani kecil, dengan kata lain produk regulasi/kebijakan tersebut memberikan peluang adanya ketergantungan baru dari petani kecil kepada produsen besar, akibat adanya prosedur sertifikasi dan penerapan Standar (SNI) yang hampir tidak bisa dijangkau oleh petani kecil, Namun beberapa Regulasi tersebut telah memberikan angin segar bagi perkembangan pertanian organik di Indonesia. Beberapa Regulasi Tersebut antara lain (untuk download, klik link dibawah):
  1. PermentanNo 64 tahun 2013 Tentang Sistem Pertanian Organik;
  2. PermentanNo 70 tahun 2011 tentang Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan pembenah tanah;
  3. PermentanNo 20 Tahun 2010 tentang Sistem Jaminan Mutu Pangan Hasil Pertanian.
Keuntungan Pertanian Organik
Gambar 5.
Persiapan Media Tanam Bawang Merah
di Lokasi Demplot Desa Praingkareha
Pertanian organik merupakan sistem pertanian yang bersifat ramah lingkungan dan hanya menggunakan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Sehingga menghasilkan produk yang sehat, bergizi , Secara umum ada beberapa tujuan dari pengembangan pertanian organik, yaitu:
  1. Menghasilkan pangan berkualitas. Pertanian organik menghasilkan pangan organik yang diyakini lebih sehat dan menyehatkan. Pangan organik aman dari zat-zat cemaran berbahaya seperti pestisida, herbisida, fungisida, dll. Beberapa zat berbahaya yang terkandung dalam racun-racun tersebut dituduh memicu berbagai penyakit seperti, kanker, stroke, jantung, dll;
  2. Melindungi pelaku pertanian. Proses produksi pertanian organik yang tidak memanfaatkan racun-racun sintetis menghindarkan pekerja pertanian dari paparan zat berbahaya. Kegiatan-kegitan seperti penyemprotan pestisida sangat penuh resiko pagi pelakunya. Paparan zat beracun sangat mungkin terserap dalam tubuh si penyemprot;
  3. Melestarikan lingkungan hidup. Penggunaan pupuk kimia diketahui menyebabkan penurunan kesuburan tanah. Tanah menjadi padat dan keras. Selain itu, penggunaan obat-obatan kimia menyebabkan hilangnya kehidupan dalam tanah. Aktivitas biologi tanah terganggu dan tanah tidak bisa memulihkan kesuburannya sendiri. Secara lebih luas lagi, proses pertanian kimia menyebabkan gangguan pada keseimbangan alam;
  4. Meningkatkan pendapatan petani. Saat ini, harga produk pertanian organik dinilai lebih tinggi dari produk pertanian konvensional. Produk organik dianggap lebih berkualitas. Sementara itu, pasokannya masih terbatas;
  5. Meningkatkan kemandirian petani. Sudah menjadi rahasiah umum bila produksi pertanian banyak ditentukan oleh keadaan diluar keguatan produksi. Selain faktor-faktor alam, petani banyak diombang-ambing oleh ketidak pastian harga dan pasokan saprotan. Dengan pertanian organik, produksi pupuk dan pengendalian hama sangat dimungkinkan dibuat secara lokal. Hal ini membantu melepaskan beberapa faktor ketidakpastian yang menghantui petani (https://agroekologis.blogspot.com)
Kentungan lain dari penerapan pertanian organik adalah:
1. Harga jual lebih mahal, karena manfaat hasil pertanian yang lebih sehat, dan semakin berkembangnya kesdaran masyarakat untuk meng-konsumsi pangan yang sehat, maka harga hasil pertanian organic menjadi lebih tinggi,  Hal tersebut juga bisa menunjang tingkat perekonomian para petani organik.
2. Biaya operasional lebih murah, pupuk anorganik  ternyata menjadi masalah baru bagi petani,  dimana  petani menjadi semakin tergantung dari hari tahun ke tahun dan harganya semakin mahal.  Dengan pertanian organik petani tidak perlu lagi khawatir mengenai pengeluaran biaya pupuk karena petani bisa memanfaatkan sumber pupuk yang tersedia di petani, berupa  kotoran ternak, sisa hasil panen, rumput liar, dll.
3. Kualitas air dan Lingkungan pertanian tetap sehat, pencemaran air, kerusakan lingkungan pertanian menjadi salah satu sebab yang ditimbulkan oleh pemanfaatan pupuk, pestisida sintetis/kimia. Maka dengan pemanfaatan bahan-bahan organic, kualitas air dan lingkungan pertanian menjadi lebih sehat dan terjaga kualitasnya.
Gambar 6 .
 Penanaman Bawang Merah
Berdasarkan pertimbangan diatas, maka Yayasan Koordinasi Pengkajian dan Pengelolaan Sumber Daya Alam (Yayasan KOPPESDA) turut serta untuk mendorong berkembangya pertanian organik di Desa-desa/komunitas yang di dampingi, baik melalui kegiatan pelatihan maupun melalui kegiatan praktek langsung dengan masyarakat.
Salah satu kegiatan percontohan pengembangan hasil pertanian secara organik  adalah, kegiatan pengembangan tanaman Hortikultura (bawang merah, bawang putih, wortel, kentang, Lombok) Organik Berbasis Agribusiness di warga Jemaat GKS Praingkareha, Kecamatan Tabundung, Kabupaten Sumba Timur. 
Kegiatan percontohan ini di dukung oleh Amos Australia, dimana dalam Implementasinya, yayasan KOPPESDA bekerjasama dengan BPMJ (Badan Pengurus Majelis Jemaat) Jemaat Praingkareha. Kegiatan tersebut mulai dilaksanakan pada bulan Juni 2020, dengan melibatkan Para Pelayan Jemaat (Pendeta, Guru Injil, Majelis Jemaat) dan anggota jemaat yang berjumlah 30 orang untuk didampingi dalam mengembangkan tanaman hortikultura secara organik  di lokasi demplot (demonstration plot) seluas 1 Ha, mulai dari tahap persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, pengendalian organisme Penggangu Tumbuhan (OPT), panen dan pasca panen, hingga pemasaran.
Sebagai rangkaian dari upaya peningkatan kapasitas bagi 30 orang anggota kelompok kerja di Jemaat GKS Praingkareha, maka dilakukan kegiatan pelatihan dan praktek pada tanggal:
  1. 10-11 Juni 2020 dengan materi budidaya Sayuran yang dapat bertahan lama dan mempunyai nilai jual tinggi, yaitu:  Tomat (tomato), bawang merah (Red onion), cabe (chilli), kentang (potato), wortel (Carrot) dan bawang putih (Garlic) dengan pendekatan Agribusiness Materi Dapat di download pada Link berikut: Budidaya Bawang Merah Budidaya Kentang Budidaya Tomat Budidaya Mortel.
  2. 22-23 Juni 2020 dengan materi pembuatan pupuk organic (padat, cair), bio pestisida, pembuatan Microorganisme Lokal (MOL) dengan memanfaatkan semua bahan-bahan yang tersedia di sekitar warga jemaat, seperti pupuk kandang, jerami, sekam, serbuk gergaji, arang sekam, sabut kelapa dan pembuatan bio Pestisida dengan memanfaatkan tumbuhan, (daun, batang, akar dan buah) yang mudah diperoleh antara lain , bandotan, Purirahu, daun papaya, Lombok, daun Nimba, daun sirsak tembakau dll, yang mudah terurai di alam, sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia dan ternak peliharaan, Materi Pelatihan dapat di download pada link berikut: 
Kegiatan-kegiatan tersebut di fasilitasi oleh staf Yayasan KOPPESDA dan untuk memastikan keberhasilan kegiatan tersebut, maka staf Yayasan KOPPESDA melakukan pendampingan secara intensif  secara berkala.
Kegiatan percontohan pengembangan Hortikultura secara organik berbasis Agribusiness di Jemaat GKS Praingkareha, boleh berjalan dengan sukses, sehingga dapat direplikasi oleh petani lainya secara khusus di desa Praingkareha dan Petani di Kabupaten Sumba Timur Pada umumnya.
Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada Amos Australia yang telah mendukung kegiatan tersebut, BPMJ dan Anggota kelompok kerja di Jemaat Praikareha dan semua teman-teman di yayasan KOPPESDA. 

Salam Adil dan lestari.

Ignasius Anaboeni
Staf Yayasan KOPPESDA


Referensi

7




6 July 2020

Optimalisasi Pemanfaatan Potensi SDA, Melalui Kegiatan Percontohan (Demontration Plot) Agribusiness Sayuran di Jemaat GKS Praing Kareha




Gambar 1.
Kegiatan Pelatihan Budidaya Tanaman Hortikultura Tomat (tomato), bawang merah (Red onion), cabe (chilli), kentang (potato), wortel (Carrot) dan bawang putih (Garlic) dengan pendekatan Agribusiness pada Tanggal 10-11 Juni 2020
Gambaran Umum Desa Praing Kareha
Desa Praing Kareha, Terletak di Kecamatan Tabundung, Kabupaten Sumba Timur dengan jarak 113 kilometer dari ibukota kabupaten Sumba Timur.
Luas Wilayah Desa Praing Kareha adalah 5120 Ha, dengan ketinggian 259 dari permukaan air laut (DPL). Berdasarkan data Kecamatan Tabundung dalam Angka (Tabundung In figures 2018) diketahui jumlah penduduk Desa Praing Kareha sebanyak 1320  (Laki-laki 648 orang dan perempuan 672 orang) orang (314 KK). Desa Praing Kareha terletak di Zona Peyangga (Buffer Zone) kawasan Taman Nasional MATALAWA (dulu TN Laiwanggi-Wanggameti), sehingga Desa ini kaya akan potensi Sumber Daya Alam, baik sungai, mata air serta lahan yang subur. 
Hasil pertanian utama di Desa Praing Kareha adalah dari sawah irigasi (irrigated rice fields ) seluas 146 Ha, padi ladang (paddy fields)  dan kebun jagung (cornfield) seluas 64 Ha Kecamatan Tabundung dalam Angka (Tabundung In figures 2018).

Sumber pendapatan utama masyarakat di Desa Praing Kareha adalah dari padi, baik padi sawah irigasi (irrigated rice paddies) maupun padi ladang (paddy fields). Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga (pakaian, sekolah anak-anak, urusan social, dll) masyarakat harus menjual beras (rice), sehingga terkadang masyarakat Desa Praing Kareha mengalami rawan pangan (Food insecurity) pada bulan Desember, Januari, Februari (pada saat awal musim tanam), karena persediaan pangan telah dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup lainnya.

Peluang Agribusiness Sayuran Di Desa Praing Kareha
Gambar 2.
Penyerahan Dukungan Mesin Cultivator (Mini Tiller)
Kepada BPMJ GKS Praing Kareha
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara, diketahui bahwa potensi Sumber Daya Alam, berupa lahan yang subur dan sumber air yang melimpah, belum dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Potensi Lahan Pertanian, terutama lahan sawah irugasi, belum dimanfaatkan secara maksimal, pada umumnya lahan sawah irigasi hanya dimanfaatkan untuk bercocok tanam padi untuk memenuhi kebutuhan pangan. Pengembangan tanaman sayuran seperti  sawi hijau (Mustard greens), tomat (tomato), bawang merah (Red onion), cabe (chilli), kentang (potato), wortel (Carrot), bawang putih (Garlic), kacang panjang (long bean) dll. Hanya untuk sekedar memenuhi konsumsi sehari-hari atau belum berorientasi bisnis (agribusiness) dimana masyarakatdi Desa Praing Kareha belum menerapkan pola pertanian intensif untuk meningkatkan pendapatan antara lain dengan penerapan system Rotasi Tanaman misalnya “Padi-Sayuran”.
Sayur (vegetable) atau sayuran (vegetables), merupakan bagian dari kebutuhan sehari-hari manusia yang dapat dikonsumsi baik yang diambil dari akar, batang, daun, biji, bunga atau bagian lainnya, yang mempunyai banyak manfaat bagi tubuh, antara lain untuk mengatur metabolisme, mencegah penyakit, dll.Berdasarkan hasil survei, di pasar Waingapu diketahui bahwa:
  1. Sayuran yang berada di pasar Waingapu, paling banyak berasal dari daerah sekitar kota Waingapu, yaitu dari Daerah Lambanapu, Mauliru, Kawangu yang merupakan bagian dari  daerah DAS Kambaniru.
  2. Pada saat pedagang kekurangan stock sayur, maka sayuran di datangkan dari Kabupaten tetangga, antara lain dari kabupaten Sumba Barat.
  3. Pada musim hujan beberapa jenis sayuran antara lain tomat, bawang merah,  cabe, kentang, wortel, bawang putih di datangkan/di impor dari luar luar pulau sumba, yaitu dari pulau Lombok dan Bima, Propinsi Nusa Tenggara Barat.
  4. Pada musim hujan (Desember, Januari, Februari dan Maret), harga jual beberapa sayuran menjadi lebih tinggi, antara lain harga sawi hijau (Mustard greens) 2 pohon  Rp. 5.000 sedangkan pada musim kemarau 5 pohon Rp. 5.000, bawang merah harga jualnya menjadi Rp. 30.000 pada musim hujan, sedangkan harga pada musim kemarau sekitar Rp. 15.000, begitupula dengan harga tomat pada musim hujan 4 buah Rp. 5.000, sedangkan pada musim  kemarau 6 sampai 8 buah Rp. 5.000.
  5.  Harga Jual cabe, sebelum memasuki musim panen pada bulan November, Desember 2019 sampai dengan bulan Februari 2020 mencapai Rp. 100.000/kg.
  6. Pada kegiatan survei terakhir (pertengahan Juni 2020), ditemukan fakta bahwa sebagian besar wortel yang dijual di pasar Inpres Waingapu bukan berasal dari Indonesia tapi di import dari China.


Gambar 3.
Pelatihan dan Praktek Pembuatan Bokashi, POC dan Bio Pestisida Pada Tanggal 22-23 Juni 2020
Berdasarkan hasil survei tersebut dapat disimpulkan bahwa, Stok sayuran di pasar waingapu, belum memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama di musim hujan, dimana untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sayuran masih di datangkan dari luar daerah Sumba Timur, bahkan dan Propinsi Nusa tenggara Barat. 
Dengan potensi Sumber Daya Alam yang melimpah, maka Agribusinesss sayuran, merupakan peluang usaha yang perlu dikembangkan sebagai salah satu alternative sumber pendapatan masyarakat di Desa Praing Kareha.

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Gereja (GKS Jemaat Praing Kareha)
Program Agribusiness sayuran di Desa Praing Kareha di dukung oleh Lembaga AMOS Australia, yaitu salah satu lembaga Kristen dari Australia yang berkomitmen untuk mendukung atau membantu gereja-gereja di Indonesia maupun masyarakat umum terutama Masyarakat di Propinsi Nusa Tenggara Timur dengan berbagai program yang bermanfaat, yang dapat membantu masyarakat terutama masyarakat miskin/marginal untuk keluar dari berbagai persoalan social antara lain untuk membantu masyarakat supaya lebih sejahtera dan mandiri.
Gambar 4.
Persiapan Lahan Oleh Kelompok Pengelola Demplot (Kebun Percontohan)
Dalam Implementasi program Agribusiness Sayuran di Desa Praing Kareha, maka yayasan KOPPESDA bekerjasama dengan BPMJ GKS Praing Kareha dimana Yayasan KOPPESDA sebagai mitra dalam implementasi program berupaya untuk  membantu warga jemaat GKS Praing Kareha secara khusus dan masyarakat di Desa Praing Kareha secara umum agar dapat memanfaatkan secara optimal potensi SDA yang melimpah agar berdampak pada peningkatkan kualitas hidup atau kesejahteraannya, sehingga memungkinkan masyarakat memenuhi kebutuhannya sendiri secara berkelanjutan.
Pengembangan Agribusiness Sayuran di Jemaat GKS Praing Kareha, juga di laksanakan dengan pertimbangan,  bahwa Gereja bukan saja bertangung-jawab untuk menumbuhkan kehidupan rohani anggota jemaat, tetapi juga untuk melayani masyarakat yang lemah, miskin atau terbelakang  dan salah satu caranya adalah dengan pendekatan pemberdayaan jemaat (Community Development).
Gambar 5.
Persiapan Media Tanam (Bedengan) Oleh Kelompok Pengelola Demplot (Kebun Percontohan)
Pengembangan Agribusiness Sayuran di Jemaat GKS Praing Kareha, dikembangkan dengan membangun kegiatan percontohan atau Demontration Plot (demplot) di lahan Sawah Irigasi seluas 1 Ha di 3 lokasi. Dalam pengembangan demplot, akan dipilih 30 orang sebagai kelompok pengelola yang berasal dari warga jemaat, Majelis Jemaat dan Pelayan (Pendeta dan Guru Injil) yang terlibat dalam kegiatan percontohan  (demplot)  Agribusiness Sayuran selama 12 bulan (Mei 2020-April 2021).
Demplot ini diharapkan menjadi media belajar bagi 30 orang anggota jemaat dan masyarakat di Desa Praing Kareha Pada Umumnya, sehingga dapat direplikasi dan dikembangkan di lahan masing-masing dan pada akhirnya berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di Jemaat GKS Praing Kareha dan Masyarakat Desa Praing Kareha pada umumnya.

Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan dan difasilitasi oleh Staf Yayasan KOPPESDA serta kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan, antara lain:
  1. Pelatihan Budidaya Sayuran yang dapat bertahan lama dan mempunyai nilai jual tinggi, yaitu:  Tomat (tomato), bawang merah (Red onion), cabe (chilli), kentang (potato), wortel (Carrot) dan bawang putih (Garlic) dengan pendekatan Agribusiness pada Tanggal 10-11 Juni 2020.
  2. Pelatihan dan Praktek Pembuatan Pupuk Organik Padat, POC dan Bio Pestisida, sekaligus penyerahan dukungan Mesin Cultivator (Mini Tiller) kepada BPMJ GKS Praing Kareha pada tanggal 22-23 Juni 2020.
  3. Persiapan lahan (pembuatan pagar demplot, tracktor lahan dan pembuatan bedengan) untuk pengembangan Bawang Merah, Bawang putih, Wortel, Kentang, Tomat dan Cabe seluas 1 Ha (sedang berlangsung).
  4. Percontohan budidaya Bawang Merah di musim Hujan/off Session akan dilaksanakan pada bulan oktober 2020.
  5. Percontohan budidaya Tomat di musim Hujan/off Session dengan Green House Sederhana, akan dilaksanakan pada bulan November 2020.
  6. Untuk memastikan keberhasilan kegiatan percontohan diatas, maka Staf Yayasan Koppesda akan melakukan pendampingan rutin, mulai dari tahap persiapan lahan, pemeliharaan, panen hingga pasca panen.
Terima Kasih Tak Terhingga kepada AMOS Australia, BPMJ dan Kelompok Kerja di GKS Praing Kareha, serta rekan-rekan seperjuangan di yayasan KOPPESDA, Kiranya Tuhan Yang Maha Kuasa Memberkati Segala Upaya Kita, SHALOM! (06/07/2020)

Deni Karanggulimu
Staf Yayasan KOPPESDA